Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY


Saya menulis ini hampir setahun yang lalu, tapi baru sekarang punya keberanian untuk membagikannya. Funny how time works, ya. Dulu, menuliskan hal-hal ini saja rasanya berat sekali. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, banyak perasaan yang belum bisa saya pahami, dan banyak hal yang waktu itu rasanya tidak adil untuk saya terima.

Hidup tanpa ibu rasanya ribuan kali lebih berat. Ada banyak momen ketika saya berharap masih punya tempat untuk pulang, seseorang yang bisa mendengarkan semua cerita saya tanpa perlu menjelaskan panjang lebar kenapa sesuatu terasa begitu menyakitkan. Dan ketika harus menghadapi kehilangan itu bersamaan dengan luka lainnya, rasanya seperti harus belajar bertahan di tengah keadaan yang bahkan belum sempat saya pahami.

Dari semua yang saya lalui, ada beberapa hal yang perlahan saya pahami saat ini. Hal-hal yang mungkin terdengar sederhana, tetapi ternyata mengubah cara saya melihat kehidupan, menghadapi luka, dan yang paling penting, menemukan kembali ketenangan dalam diri sendiri.

Stop looking for answers in things Allah has already allowed to happen.

Dulu, saya sering bertanya kenapa sesuatu harus terjadi, kenapa seseorang bisa memilih untuk menyakiti, dan kenapa hidup membawa saya ke situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya bahkan sempat mencoba mencari alasan dari keadaan orang lain, berharap dengan begitu saya bisa lebih mudah memahami apa yang terjadi. But the more I tried to find answers, the more exhausted I became.

Sampai akhirnya saya belajar bahwa tidak semua hal harus saya pahami untuk bisa saya terima. Tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, dan tidak semua kejadian harus punya penjelasan yang bisa saya mengerti sekarang. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali saya, termasuk pilihan orang lain. Tugas saya bukan terus-menerus mencari tahu kenapa mereka melakukannya, melainkan belajar bagaimana saya ingin melanjutkan hidup setelahnya.

Tawakal doesn't mean giving up. It means trusting Allah with what you cannot control.

Saya dulu berpikir bahwa menyerahkan hidup kepada Allah mungkin berarti harus belajar menerima banyak hal yang tidak sesuai keinginan. Padahal, ternyata lebih dari itu. It is about doing your best, making your prayers, taking the steps you can take, and trusting Allah with everything beyond your control.

Kalau dulu saya berdoa agar hidup berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan, sekarang saya lebih sering berdoa agar Allah membimbing saya menuju apa yang memang baik untuk saya. Kalau ada sesuatu yang membuat cemas, saya berusaha mengingat Allah. Kalau ada sesuatu yang membuat bahagia, saya juga mengingat Allah. Ketika ada yang berjalan sesuai harapan, saya bersyukur. Ketika ada yang tidak sesuai rencana, saya belajar menerima bahwa mungkin ada hal yang belum saya pahami. And somehow, life feels lighter this way.

Bukan karena masalah tiba-tiba hilang, bukan juga karena saya tidak pernah sedih atau takut lagi. Saya tetap manusia yang punya kekhawatiran, harapan, dan keinginan. Bedanya, sekarang saya tidak merasa harus memikirkan semuanya sendirian. Ada Allah yang bisa saya mintai pertolongan, ada doa yang bisa saya panjatkan, dan ada keyakinan bahwa saya tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan untuk tetap melangkah.

Peace comes when you stop trying to control everything and start trusting Allah more.

Ternyata, selama ini saya sering merasa lelah bukan hanya karena apa yang terjadi, tetapi juga karena saya terus berusaha mencari kepastian atas hal-hal yang memang tidak bisa saya kendalikan. Saya ingin tahu bagaimana semuanya akan berakhir, apakah pilihan saya benar, apakah saya akan baik-baik saja, dan apakah semua yang saya alami akan masuk akal suatu hari nanti.

Sekarang, saya belajar menjalani hidup dengan lebih sederhana. Ada cemas sedikit, ingat Allah. Ada bahagia sedikit, ingat Allah. Ada hal yang belum pasti, berdoa. Ada hal baik yang datang, bersyukur. Ada yang pergi, belajar mengikhlaskan. Not everything needs to be figured out today. Sometimes, I just need to do my part and leave the rest to Allah.

Dan jujur, rasanya menyenangkan sekali bisa sampai di fase ini. Fase ketika saya tidak lagi merasa harus mendapatkan semua jawaban untuk bisa merasa tenang. Fase ketika kebahagiaan tidak selalu bergantung pada apakah semua hal berjalan sesuai keinginan. Fase ketika saya bisa menikmati hal-hal kecil tanpa terlalu sibuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok.

Saya tidak tahu apakah ini yang disebut semakin dewasa, semakin mengenal diri sendiri, atau semakin belajar mengenal Allah. Mungkin semuanya. Yang saya tahu, hidup terasa jauh lebih ringan ketika saya berhenti menganggap bahwa semuanya harus berada dalam kendali saya.

Saya masih punya banyak hal yang ingin dicapai, banyak doa yang ingin dikabulkan, dan banyak harapan untuk masa depan. But now, I want to pursue them without forgetting to enjoy the life Allah has already given me.

Hampir setahun lalu, saya menulis semua ini dari tempat yang begitu berbeda. Hari ini, saya membacanya kembali dengan hati yang jauh lebih tenang. Bukan karena saya sudah melupakan semuanya, tetapi karena saya tidak lagi membawa semuanya dengan cara yang sama.

And if there's one thing I wish I had understood earlier, it is this: ternyata menyerahkan hidup kepada Allah tidak membuat kita kehilangan kendali atas hidup. Justru kita belajar membedakan mana yang memang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang sejak awal bukan milik kita untuk kendalikan.

Kita tetap berusaha, tetap punya keinginan, tetap boleh berharap. Hanya saja, kita tidak lagi harus memaksakan semuanya terjadi sesuai keinginan kita.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa bilang bahwa saya sedang berada di fase hidup yang lebih tenang dan bahagia. Bukan berarti setiap hari sempurna, tetapi hati saya tidak lagi harus ikut berantakan setiap kali hidup berjalan di luar rencana.

Ternyata, sesederhana itu ketika kita mulai benar-benar menitipkan hidup kepada Allah. Kita menjalani bagian kita sebaik mungkin, lalu membiarkan Allah mengurus bagian yang tidak mampu kita jangkau.

And honestly, there's so much peace in knowing that I don't have to figure everything out on my own. May Allah ease the hearts that are tired, calm the minds that are anxious, and give us the strength to trust His plans even when we don't understand them. May we find peace in knowing that we don't have to figure everything out on our own, because Allah has always been there. Aamiin. 

Sending so much love to you and your loved ones
.(づ ̄3 ̄)づ╭♡~

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


(disclaimer: sengaja no italics hihi)

Have you ever watched someone love another person so much that, somewhere along the way, they almost forgot who they were?

Saya pernah melihat seorang perempuan yang percaya bahwa ketika dua orang memutuskan untuk menjalin hubungan, merencanakan masa depan, dan memperkenalkan satu sama lain kepada keluarga, tentu ada sesuatu yang membuat mereka yakin untuk melangkah sejauh itu. They don't make those decisions out of nothing. Setidaknya, itulah yang dia percaya. Bahwa di balik semua komitmen itu, ada cinta, kepercayaan, dan keinginan untuk membangun kehidupan bersama.

Makanya, agak lucu ketika melihat bagaimana sebagian orang berusaha mencari alasan untuk membenarkan sesuatu yang jelas-jelas menyakiti orang lain. Ada yang sibuk merasionalisasi tindakan pelaku, ada yang berusaha menjelaskan keadaan seolah-olah pengkhianatan itu sekadar kesalahan kecil, dan ada juga yang ikut membela karena mungkin lebih mudah mempertahankan cerita yang mereka percaya daripada menerima kenyataan yang sebenarnya.

Funny how people can be so creative when it comes to justifying someone else's wrongdoing haha. Especially when the truth would require them to admit that someone they care about isn't as good as they thought.

Yang lebih menarik, terkadang orang yang paling disakiti justru menjadi orang yang paling sibuk mencari kesalahan dalam dirinya sendiri. Perempuan itu pun begitu. She questioned herself in ways she never should have had to. Apa yang kurang dari dirinya? Apa yang seharusnya bisa dia lakukan dengan berbeda? Apakah ada sesuatu yang gagal dia berikan sampai seseorang yang pernah membicarakan masa depan bersamanya justru memilih untuk menyakiti hatinya?

But then, something happened that made her see things differently.

Bahkan setelah semua yang dilakukan kepadanya, laki-laki itu masih berusaha mempertahankan keberadaan perempuan itu dalam hidupnya. Seolah-olah dia masih ingin memiliki tempat untuk perempuan itu, meskipun tindakannya sendiri telah merusak kepercayaan yang seharusnya dijaga.

And perhaps that was when she finally started to understand: maybe she wasn't the problem she had spent so much time trying to fix. Because sometimes, the problem isn't that someone didn't receive enough love. Sometimes, the problem is that they want to keep everything they have while still reaching for something else.

They want the comfort of a familiar love, the security of someone who stays, and the excitement of something new. They want to keep their place in someone's life without fully respecting what that place requires of them. Seolah-olah orang lain hanyalah sesuatu yang bisa disimpan, dipilih, dan dikembalikan sesuka hati. Like collecting things they never really intend to take care of.

And no, love doesn't make that acceptable.

Taylor Swift once sang, “Nothing good starts in a getaway car.” And somehow, those words make sense in stories like this one. Bukan berarti setiap hubungan yang dimulai dalam keadaan rumit pasti berakhir buruk, tetapi ketika sebuah hubungan dibangun di atas ketidakjujuran, ketidaksiapan, atau seseorang yang sebenarnya belum selesai dengan masa lalunya, ada banyak hal yang sejak awal sudah berpotensi menjadi masalah.

Sometimes, people enter a new relationship because they're lonely. Sometimes, they mistake the comfort of being wanted for the readiness to love someone properly. Sometimes, they look for someone new before they've learned how to be honest with themselves. Whatever the reason, the consequences don't disappear just because someone can explain them beautifully.

You can have reasons for what you did without those reasons making it right. You can have your own struggles without making someone else pay for them. And you can be confused about what you want without dragging another person into a situation they never agreed to be part of. Because someone else's heart is not a place for you to figure yourself out at the expense of their peace.

I sometimes wonder whether anyone noticed how much she was losing herself while trying to make sense of everything. How exhausting it must have been to love someone while slowly questioning her own worth. How lonely it must have felt to carry the pain of what happened while also trying to understand why it happened.

She wasn't just losing someone she loved. For a while, she was also losing the version of herself who used to feel safe in her own judgment. The person who could trust her instincts without second-guessing everything. The person who didn't have to wonder whether being loved meant accepting things that hurt her.

And before anyone calls this "gamon", I think there's a difference between someone who is still stuck in the past and someone who has finally learned to see it for what it really was.

Menurut saya, perempuan ini bukan sedang berusaha kembali ke masa lalu, apalagi berharap sesuatu yang sudah selesai bisa terulang lagi. She's simply looking back at something she once experienced, with a much clearer mind and a calmer heart.

Karena jujur saja, ketika kita masih berharap, kita cenderung mencari alasan untuk memaklumi. Ketika kita masih ingin seseorang tinggal, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk memahami mereka, bahkan ketika mereka terus memberikan alasan untuk kita pergi. Kita berusaha melihat sisi baiknya, mengingat semua kenangan indahnya, dan meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin semuanya masih bisa diperbaiki.

But when you're finally able to step back, you start seeing things differently. Hal-hal yang dulu membingungkan perlahan menjadi jelas. Perilaku yang dulu berusaha kita maklumi akhirnya bisa kita lihat sebagaimana adanya. And suddenly, you realize that some things you spent so much time trying to understand were never yours to fix in the first place. So no, I wouldn't necessarily call this "gamon". I think it's more about reaching a point where you can look back without feeling the need to rewrite the story, defend the person who hurt you, or blame yourself for how everything turned out.

And honestly, hehe, I don't think someone who is still desperately holding on could write about it this calmly. At least, not without secretly hoping the story would end differently. Sometimes, being able to tell a story without wanting to return to it is a sign that you've finally made peace with what happened. You can acknowledge the pain without reliving it, recognize the good memories without romanticizing the whole relationship, and accept that someone was once important to you without believing they still belong in your future.

Maybe that's what healing looks like sometimes. Not forgetting the story, but finally being able to tell it without losing yourself in it all over again.

I'm glad she survived that version of her life.

I'm glad she got the chance to meet herself again, outside the confusion, outside the constant questioning, and outside the need to prove that she was worthy of being chosen honestly.

She deserved that much from the beginning.

And if there's one thing I hope for her, it's that this kind of love never finds her again. Not the kind that makes her question her worth. Not the kind that asks her to understand everyone else's circumstances while leaving no room for her own feelings. And certainly not the kind that makes her feel replaceable in a story where she once believed they were building a future together.

I hope the next chapter of her life feels different. I hope she meets people who know what they want and have the courage to be honest about it. People who understand that commitment is not just about making promises, introducing someone to their family, or talking about a future together. It's about the choices they make when nobody is watching, the boundaries they respect when temptation appears, and the honesty they maintain when the truth becomes uncomfortable.

Most of all, I hope her happiness never again comes at the expense of another person's heart, and that no one else's happiness ever requires her to lose herself. Because she has spent enough time trying to understand why someone could hurt her. Now, I hope she gets to spend her time living a life that doesn't constantly ask her to. And maybe that's the ending she deserved all along: not revenge, not an apology that finally makes everything make sense, and not even the satisfaction of knowing whether the other person ever regrets what happened. Just peace.

The kind of peace where she no longer needs to prove that she was enough, because she finally understands that someone else's inability to love her honestly was never the measure of her worth. And perhaps, somewhere along the way, the girl I knew became someone who could look back at everything that happened, smile a little, and say, “Well, that was something.” Haha.

Not because it didn't hurt. Not because it was okay. But because it no longer has the power to define her.

And I'm glad she made it out.

Love,  
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Sometimes, I'm just tired. Cape rasanya membawa baggage dari hal-hal yang pernah terjadi dalam hidup saya, baik dari keluarga maupun hubungan sebelumnya. There are things that happened a long time ago, but somehow, their impact stays longer than I expected. Saya pikir waktu akan membuat semuanya terasa lebih ringan, but healing doesn't always work that way.

Ada hal-hal yang tanpa sadar mengubah cara saya melihat orang, cara saya merespons sesuatu, bahkan cara saya memulai hubungan baru. I used to think that getting to know someone should feel exciting, that I could simply enjoy the process and let things unfold naturally. Tapi sekarang, ada bagian dari diri saya yang selalu berhati-hati. I notice the little changes, the inconsistent communication, the sudden distance, and the way someone responds when things start getting serious.

And sometimes, I hate that I notice everything.

Yang lebih melelahkan, not everyone understands why I am the way I am. Hal yang menurut saya cukup mengkhawatirkan mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain. My reactions might seem unusual, my boundaries might feel too much, and my past might even be something they find scary. But I also understand that not everyone can understand what they have never experienced themselves.

Not everyone will understand your trauma, and not everyone has to. Saya tidak bisa memaksa orang lain memahami semua hal yang pernah saya lalui. I don't expect everyone to know how certain experiences have shaped me. Saya hanya berharap, ketika mereka tidak memahami, mereka tidak buru-buru menganggap saya aneh hanya karena cara saya menghadapi sesuatu berbeda dari mereka.

The truth is, all of this has changed the way I approach relationships. I'm more likely to walk away when someone starts showing signs of inconsistency, avoids difficult conversations, or seems unsure about their intentions. Kalau saya merasa seseorang mulai menghindar ketika hubungan membutuhkan kejelasan, saya cenderung memilih mundur daripada terus mengejar jawaban. Bahkan, saya bisa tidak peduli sama sekali dengan apa yang dia pikirkan tentang saya. Saya tidak lagi punya keinginan untuk meluruskan apa pun. Biarlah dia dengan opininya terhadap saya. Rasanya sudah terlalu lelah untuk hal itu. Karena kadang, mereka cuma mau melihat dan mendengar apa yang memang ingin mereka lihat dan dengar.

Not because I don't care. Sometimes, I care more than I want to admit. But I've learned that I cannot build something meaningful with someone who keeps making me question whether they even want to be there. Maybe I have become quicker to cut people off than I used to be. Maybe I no longer have the same patience for situations that feel uncertain. And I know that, from the outside, it might look like I'm giving up too easily. But sometimes, what looks like giving up is actually someone trying not to lose themselves again.

Still, I'm aware that there is a fine line between protecting myself and pushing people away out of fear. I don't want my past to make every new person look like a potential source of pain. I don't want to assume that everyone will eventually disappoint me just because some people did. I want to protect my peace without letting my trauma make every decision for me.

Karena tidak semua orang yang membutuhkan waktu berarti tidak serius. Not every misunderstanding is a red flag, and not every uncomfortable moment means something is about to go wrong. Relationships need patience, communication, and room for people to learn about each other. Tapi buat saya, effort and consistency still matter. I can be patient with someone who is genuinely trying, but I don't want to keep making excuses for someone who repeatedly avoids showing up.

I don't need someone perfect. I just want someone who is willing to communicate, someone who doesn't disappear when things get uncomfortable, and someone whose actions make their intentions clear. Someone who understands that consistency is not about being available every second, but about making the other person feel that they don't have to keep guessing where they stand.

And honestly, I'm tired of having to convince myself that inconsistency is something I should learn to tolerate. At the same time, I'm still learning how to let people in. To give someone a fair chance without ignoring my boundaries. To communicate my fears instead of immediately withdrawing. To understand that being vulnerable doesn't automatically mean I'm putting myself in danger. It's not easy. Some days, I feel like I've made progress. Other days, I notice myself going back to old patterns, preparing to leave before someone even has the chance to hurt me. And I have to remind myself that healing is not about never being afraid again. It's about learning how to respond to that fear without letting it control everything.

I don't want to spend my life in survival mode. I want to experience love without constantly anticipating loss. I want to enjoy getting to know someone without overanalyzing every little change. I want to trust someone because their actions have shown me that they are trustworthy, not because I'm desperately trying to convince myself that everything will be okay. Maybe I'm not there yet, and that's okay. For now, I'm learning to be kinder to myself. I'm learning that I can acknowledge the things that hurt me without allowing them to define my entire identity. My trauma may explain some of my reactions, but it doesn't have to determine the person I become.

Saya juga belajar bahwa I don't have to explain my entire past to everyone who enters my life. Some people will understand, some won't, and some simply aren't meant to know every part of me. I can choose what to share, when to share it, and with whom I feel safe enough to be vulnerable. I hope that one day, all these experiences won't feel like baggage I have to carry into every new relationship. I hope I can remain cautious without becoming cold, have boundaries without always preparing to leave, and love someone without feeling like I have to sacrifice my peace to keep them. I'm still healing, still learning, still figuring out how to let people in without losing myself in the process.

And maybe that's enough for now. I don't have to be completely healed to deserve good things. I just have to keep doing the work, keep being honest with myself, and keep reminding myself that my past is part of my story, but it doesn't have to be the ending.

Love,  
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Ada satu hal yang belakangan ini sering saya pikirkan: sometimes, knowing how something hurts doesn't automatically mean we know how to avoid becoming the person who causes that hurt.

Kita bisa tumbuh dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat diperlakukan dengan buruk, melihat bagaimana seseorang yang kita sayang pernah kecewa, kehilangan kepercayaan, atau harus menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka lalui. Kita tahu persis bagaimana rasanya melihat orang yang dekat dengan kita disakiti. Bahkan mungkin pernah terlintas, “Kalau suatu hari saya punya hubungan sendiri, saya nggak mau menjadi orang seperti itu.”

But knowing the pain is one thing. Learning from it is another.

Karena pengalaman buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai pelajaran dan berusaha memutus pola yang sama. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru mengulang sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri mungkin dengan cara yang berbeda, mungkin dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit yang kurang lebih sama.

Dan menurut saya, itu cukup menarik untuk direnungkan. Karena manusia memang bisa sangat aware terhadap sesuatu ketika menjadi korban, tetapi belum tentu memiliki awareness yang sama ketika berada di posisi yang berbeda.

Saya sendiri juga masih belajar soal ini, I’ve made mistakes, reacted emotionally, said things I probably shouldn't have said dan mungkin pernah menyakiti orang tanpa benar-benar memahami dampaknya saat itu. Jadi tulisan ini bukan tentang merasa lebih baik dari siapa pun. Justru sebaliknya, mungkin ini reminder untuk diri sendiri juga. Karena self-reflection bukan hanya tentang menyadari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi juga berani melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Kita bisa tahu mana yang salah. Bisa tahu bagaimana rasanya dikhianati. Bisa tahu bagaimana rasanya diabaikan. Bisa tahu bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita sayang diperlakukan tidak baik. Tapi ketika hidup membawa kita ke situasi yang sama, kita tetap harus memilih bagaimana akan bersikap.

Ketika sedang marah, apakah kita tetap bisa menjaga cara bicara? Ketika sedang kecewa, apakah kita memilih komunikasi atau mencari pelarian? Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan menyakiti orang lain, apakah kita tetap melakukannya hanya karena sedang mengikuti perasaan?

Maybe that's where the real lesson is.

Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Karena saya rasa tidak ada yang seperti itu. Tapi tentang mau berhenti sebentar dan bertanya, “Kalau saya tahu persis bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini, kenapa saya masih mungkin melakukan hal yang sama kepada orang lain?” Kita semua membawa sesuatu dari keluarga, masa lalu, dan pengalaman masing-masing. Ada hal-hal yang membentuk kita dengan baik, ada juga pola yang mungkin perlu kita sadari dan pelan-pelan kita putus.

Dan mungkin prosesnya memang tidak selalu mudah. Sometimes we repeat what we haven't fully healed from. Sometimes we hurt people while we're still figuring ourselves out. Sometimes we only realize the impact of our actions after the moment has passed. Saya pun masih belajar tentang itu.

Belajar untuk lebih aware sebelum bertindak. Belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari sisi sendiri. Belajar untuk bertanya bukan hanya “apa yang saya rasakan?”, tapi juga “bagaimana tindakan saya mungkin dirasakan oleh orang lain?” Because knowing better doesn't automatically make us better. It takes reflection, humility, and a conscious effort to do differently.

Dan mungkin untuk sekarang, saya tidak perlu mengklaim sudah benar-benar mengerti semuanya. Cukup terus belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang sudah saya tahu bisa menyakiti, sambil tetap memberi ruang untuk diri sendiri dan orang lain untuk bertumbuh. Still learning. Still reflecting. Still trying to do better.

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai menyadari bahwa keberhasilan sebuah hubungan tidak selalu diukur dari seberapa lama dua orang bertahan bersama. Karena kenyataannya, waktu bukanlah indikator utama dari kualitas sebuah hubungan.

Ada hubungan yang berlangsung bertahun-tahun, tetapi dipenuhi ketidakjelasan, ketidaktenangan, dan luka yang terus berulang. Sebaliknya, ada pula hubungan yang mungkin tidak sempurna, tetapi membawa pertumbuhan, ketenangan, dan banyak kebaikan bagi kedua orang di dalamnya.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, "Siapa yang akan paling lama bersama?" Melainkan, "Siapa yang membawa kebaikan dalam hidup?". Karena bersama saja tidak selalu cukup.

The truth is, not everyone who stays makes life better.

Ada orang yang hadir tetapi justru menguras energi. Ada yang selalu ada secara fisik, namun tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang. Ada pula yang membuat seseorang terus mempertanyakan dirinya sendiri bahkan kehilangan arah. 

Padahal hidup pada dasarnya sudah cukup menantang. Ada tanggung jawab yang harus dijalani, kehilangan yang harus diterima, kegagalan yang harus dihadapi, dan masa depan yang tidak selalu bisa diprediksi. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran orang yang tepat seharusnya tidak menambah beban, melainkan membantu membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Bukan karena mereka mampu menyelesaikan semua masalah. Tetapi karena mereka memilih untuk berjalan bersama saat masalah itu datang.

A good partner is not someone who makes life perfect.
A good partner is someone who makes life easier to face.

Mereka hadir dengan niat untuk saling membahagiakan, bukan saling mengalahkan. Mereka belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, bukan terus berfokus pada apa yang kurang. Mereka memahami bahwa hubungan tidak dibangun hanya dengan rasa cinta, tetapi juga dengan kesabaran, komitmen, dan kemampuan untuk memaafkan.

Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang sempurna. Akan selalu ada kesalahan. Akan selalu ada perbedaan. Akan selalu ada masa-masa sulit yang menguji hubungan. Namun yang membedakan adalah apakah kedua orang tersebut memiliki kemauan untuk tetap berusaha, tetap belajar, dan tetap memilih satu sama lain ketika keadaan tidak lagi mudah.

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang dipenuhi niat baik untuk terus membawa kebaikan bagi satu sama lain. Dan mungkin, itulah alasan mengapa bersama orang yang tepat terasa berbeda. Bukan karena hidup menjadi tanpa ujian. Tetapi karena setiap ujian terasa lebih mungkin untuk dilewati.

Because in the end, what truly matters is not how long someone stays. It's whether their presence brings you closer to peace, growth, gratitude, and the best version of yourself. Karena bersama orang yang tepat dan membawa kebaikan akan selalu jauh lebih berharga daripada sekadar bersama. 

Love,
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 


Halo! Spoiler Alert ⚠

Jangan baca ini kalo belum nonton atau bukan #teamspoiler ya, haha!

Disclaimer : ini bukan review ala-ala seperti di kebanyakan blog atau vlog orang-orang yang membahas detail dari a-z, tapi cuma impression saya sebagai penonton saja. Untuk yang belum tahu series ini menceritakan tentang apa mungkin bisa search sendiri di google atau bahkan bisa langsung tonton sendiri di Netflix.

Yijin Heedo ini adalah couple yang meant to be together, BUT, not meant to be last forever. Bittersweet ending mereka is truly one of a kind. They ended it like no one ever did in Kdrama history EVER. Nobody die, nobody cheat, gak ada yang pindah planet, gak ada yang amnesia, it's just life that made them grew apart. I won't call it sad ending because, yes although the separation is painful to watch, it's just inevitable for them, but in the end we can see that both of them have already came to terms with their separation and still cheer for each other's success while keep cherishing the memories they were once shared together.    

To call 2521 a masterpiece in Kdrama is almost feel like underrated statement karena emang SEBAGUS itu. I have no word to describe how WELL MADE this drama is. Tema cerita yang kompleks dan bermacam-macam mulai dari pencarian jati diri, mengejar impian, proses pendewasaan, persahabatan, keluarga, kerasnya dunia kerja, dan cinta bisa diceritakan dengan seapik ini, ngeblend banget, dan dideliver dengan ringan tapi bermakna lewat line dialog2nya yang deep, tapi gak boring sama sekali, dan "hook" nya itu smooth banget, gak perlu pake adegan2 super epic atau gmn, tapi bikin yang nonton tetep addicted dengan drama ini. Slow burn aja gitu.    

2521 ini mirip banget sama series Reply. Cuma bedanya, Reply itu lebih light dan bright, kalo 2521 lebih realistis dan berhasil banget capture gak cuma manisnya coming of age, tapi juga pahit-pahitnya growing up dari adolescence ke adulthood kayak ketika di 1 titik kita harus memilih antara nama baik vs keluarga (kayak Yurim), karir vs cinta (Yijin Heedo), masa depan cerah vs idealisme (Seungwan), karir vs keluarga (Ibu nya Heedo). It's tough man, and yes growing up is like that, growing up means that you need to understand that  you just can't have it all, and it's painful to sacrifice something/someone over the other, but life must goes on, and you need to learn to set your priorities in life.    

Dan saya juga suka banget sama cara 2521 menceritakan suka dukanya jd reporter, emang Kdrama gak pernah kaleng-kaleng utk menggambarkan identitas karakter-karakternya terutama dari sisi pekerjaannya, karakternya gak cuma label aja, tapi beneran digali dan bikin orang tuh paham ternyata kerjaan reporter se-demanding itu dan jujur baru tau kalo reporter sama subjectnya itu harus "jaga jarak" buat alasan yang emang masuk akal. Oh and how I love when the writer connected "maintaining the safe distance" plot from the POV of a reporter and a fencer (karena fencer pun juga harus selalu jaga jarak dengan lawannya di lapangan), brilliant! Ini luar biasa sih, berarti writernya 2521 ini gak cuma research soal kehidupan seorang fencer, tapi juga reporter, dll. Good job 2521! one of my favorite KDrama ever!     

I really recomend this drama, 9,5/10. By the way maaf ya teman-teman bahasanya campur aduk karena ini nulisnya disela-sela nugas kuliah. Luv u! #staysane #stayhealthy 
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Older Posts

The Author



Humannisa

Views

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • LOVE LESSON - Part 2

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (3)
  • JOURNEY (6)
  • LIFE (4)
  • REMINDER (2)
  • REVIEWS (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (6)
    • ▼  October (4)
      • The Things I Never Got to Say
      • The Girl I Knew
      • Weights Not Mine
      • We Know Better, But Do We?
    • ►  June (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose