Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY



Ada satu hal yang belakangan ini sering saya pikirkan: sometimes, knowing how something hurts doesn't automatically mean we know how to avoid becoming the person who causes that hurt.

Kita bisa tumbuh dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat diperlakukan dengan buruk, melihat bagaimana seseorang yang kita sayang pernah kecewa, kehilangan kepercayaan, atau harus menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka lalui. Kita tahu persis bagaimana rasanya melihat orang yang dekat dengan kita disakiti. Bahkan mungkin pernah terlintas, “Kalau suatu hari saya punya hubungan sendiri, saya nggak mau menjadi orang seperti itu.”

But knowing the pain is one thing. Learning from it is another.

Karena pengalaman buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai pelajaran dan berusaha memutus pola yang sama. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru mengulang sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri mungkin dengan cara yang berbeda, mungkin dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit yang kurang lebih sama.

Dan menurut saya, itu cukup menarik untuk direnungkan. Karena manusia memang bisa sangat aware terhadap sesuatu ketika menjadi korban, tetapi belum tentu memiliki awareness yang sama ketika berada di posisi yang berbeda.

Saya sendiri juga masih belajar soal ini, I’ve made mistakes, reacted emotionally, said things I probably shouldn't have said dan mungkin pernah menyakiti orang tanpa benar-benar memahami dampaknya saat itu. Jadi tulisan ini bukan tentang merasa lebih baik dari siapa pun. Justru sebaliknya, mungkin ini reminder untuk diri sendiri juga. Karena self-reflection bukan hanya tentang menyadari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi juga berani melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Kita bisa tahu mana yang salah. Bisa tahu bagaimana rasanya dikhianati. Bisa tahu bagaimana rasanya diabaikan. Bisa tahu bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita sayang diperlakukan tidak baik. Tapi ketika hidup membawa kita ke situasi yang sama, kita tetap harus memilih bagaimana akan bersikap.

Ketika sedang marah, apakah kita tetap bisa menjaga cara bicara? Ketika sedang kecewa, apakah kita memilih komunikasi atau mencari pelarian? Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan menyakiti orang lain, apakah kita tetap melakukannya hanya karena sedang mengikuti perasaan?

Maybe that's where the real lesson is.

Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Karena saya rasa tidak ada yang seperti itu. Tapi tentang mau berhenti sebentar dan bertanya, “Kalau saya tahu persis bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini, kenapa saya masih mungkin melakukan hal yang sama kepada orang lain?” Kita semua membawa sesuatu dari keluarga, masa lalu, dan pengalaman masing-masing. Ada hal-hal yang membentuk kita dengan baik, ada juga pola yang mungkin perlu kita sadari dan pelan-pelan kita putus.

Dan mungkin prosesnya memang tidak selalu mudah. Sometimes we repeat what we haven't fully healed from. Sometimes we hurt people while we're still figuring ourselves out. Sometimes we only realize the impact of our actions after the moment has passed. Saya pun masih belajar tentang itu.

Belajar untuk lebih aware sebelum bertindak. Belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari sisi sendiri. Belajar untuk bertanya bukan hanya “apa yang saya rasakan?”, tapi juga “bagaimana tindakan saya mungkin dirasakan oleh orang lain?” Because knowing better doesn't automatically make us better. It takes reflection, humility, and a conscious effort to do differently.

Dan mungkin untuk sekarang, saya tidak perlu mengklaim sudah benar-benar mengerti semuanya. Cukup terus belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang sudah saya tahu bisa menyakiti, sambil tetap memberi ruang untuk diri sendiri dan orang lain untuk bertumbuh. Still learning. Still reflecting. Still trying to do better.

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
No comments






Kadang, kita tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari sesuatu. Bukan karena sudah mengenal seseorang sampai jauh, bukan juga karena sudah melewati banyak hal bersama. Sometimes, it’s just one tiny moment yang entah kenapa membuat kita berpikir,
“Oh… ternyata masih ada laki-laki baik di dunia ini.”

Lucunya, saya sebenarnya sudah merasa ada something sejak permata kali bertemu. Bukan karena gesture yang besar atau sesuatu yang sengaja dibuat untuk terlihat manis. Justru karena hal kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Cara dia mengangkat telepon dari keluarganya, cara nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, cara dia mendengarkan, menjawab dengan sopan, dan somehow terlihat sangat menghargai orang di seberang telepon. Saya ingat momen kecil itu dan berpikir, “Interesting…” Haha.

Mungkin karena semakin dewasa, kita jadi lebih peka terhadap hal-hal yang tidak dibuat-buat. Kita bisa membedakan seseorang yang memang punya respect dari seseorang yang hanya tahu bagaimana cara terlihat respectful. Because being nice in front of people is easy, tapi bagaimana seseorang bersikap ketika tidak sedang berusaha mengesankan siapa-siapa, somehow tells you a lot.

Dan salah satu hal yang menurut saya menarik dari laki-laki yang baik adalah bagaimana dia memperlakukan perempuan. Bukan sekadar gentleman dalam arti membukakan pintu atau menawarkan bantuan, tapi bagaimana dia benar-benar menghargai perempuan sebagai manusia yang punya pikiran, pilihan, batasan dan kehidupan sendiri.

Ada laki-laki yang ketika berbicara tentang perempuan, somehow selalu ingin merasa lebih tahu, lebih kuat, atau lebih berkuasa. Tapi ada juga yang justru genuinely mengagumi perempuan. Menghargai cara perempuan berpikir, menghargai kerja kerasnya, mendukung ambisinya dan tidak merasa terancam hanya karena perempuan di sebelahnya punya kemampuan dan pendirian sendiri.

And I think that kind of respect is attractive.

Bukan karena perempuan membutuhkan laki-laki untuk mengagungkannya, no, perempuan tetap bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Tapi rasanya berbeda ketika berada di dekat seseorang yang tidak membuat kita merasa harus mengecil agar dia bisa merasa besar.

Ada satu hal lagi yang mungkin terdengar sederhana, tapi justru cukup rare menurut saya: self-control. Saya baru sadar bahwa selama ini saya mungkin cukup sering melihat orang yang punya keinginan, emosi, atau kesempatan untuk melakukan sesuatu, tapi tidak selalu punya kemampuan untuk menahan diri.

Sedangkan orang baru ini somehow punya kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri dengan cara yang belum pernah saya temui sebelumnya. Bukan dalam arti dingin atau tidak punya keinginan, tapi justru karena dia tahu bahwa having the ability to do something doesn't mean you should do it.

Dia tahu batas, tahu kapan harus berhenti, tahu bagaimana membawa dirinya sendiri tanpa harus selalu mengikuti apa yang sedang dia rasakan. Dan menurut saya, itu salah satu bentuk maturity yang sering underrated. Because self-control is not about having no temptation, no emotion, or no desire. It’s about knowing that you have a choice in how you respond to them.

Mungkin bagi orang lain ini bukan sesuatu yang besar. Tapi setelah melewati cukup banyak pengalaman, saya jadi melihat bahwa karakter seseorang justru sering kelihatan dari bagaimana dia mengendalikan dirinya ketika sebenarnya dia could do otherwise.

Dan jujur, saya belum pernah menemukan kombinasi seperti itu sebelumnya. Someone who can be warm without being careless, respectful without trying too hard and somehow still knows how to keep his boundaries.

Saya juga semakin percaya bahwa karakter seseorang sering terlihat dari hal-hal kecil. Cara dia memperlakukan keluarganya, cara dia berbicara kepada orang yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya, cara dia merespons ketika berbeda pendapat, cara dia memperlakukan perempuan yang tidak sedang dia coba dapatkan. Bahkan cara dia memperlakukan dirinya sendiri ketika tidak ada yang melihat.

Because sometimes, the smallest gestures reveal the biggest things.

Dan mungkin ini bukan tentang seseorang yang baru dikenal lalu tiba-tiba dianggap the one. Please, let's not get ahead of ourselves haha. Baru dekat bukan berarti sudah tahu semuanya tentang seseorang. Masih terlalu banyak hal yang belum terlihat, masih banyak sisi yang belum dikenal, dan tentu saja manusia tidak bisa dinilai hanya dari beberapa momen baik.

Tapi saya rasa tidak ada salahnya mengakui satu hal sederhana: setelah melihat banyak hal dalam hidup, rasanya cukup menyenangkan ketika bertemu seseorang yang mengingatkan kita bahwa good men still exist. Bukan berarti dia sempurna, bukan berarti setiap hal tentang dia pasti akan cocok dan bukan berarti beberapa gesture baik otomatis membuktikan keseluruhan karakter seseorang.

And just in case this somehow reaches the person I’m talking about (maaf kalau tulisan ini terdengar sedikit terlalu manis). This is not me trying to flirt with you, saya cuma ingin mengabadikan satu hal yang menurut saya layak disyukuri: bahwa di satu titik dalam hidup, saya dipertemukan dengan seseorang yang lewat hal-hal kecilnya berhasil mengingatkan saya bahwa masih ada laki-laki yang tahu bagaimana cara menghormati, menghargai, mengagumi perempuan dan yang paling penting, tahu bagaimana mengendalikan dirinya sendiri.

Tidak ada maksud untuk memberi label apa pun pada pertemuan ini. Tidak ada ekspektasi besar juga. I’m simply grateful that our paths crossed. Dan kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, saya harap yang kamu tangkap bukan “wah, ini pasti tentang saya” hehe, mungkin memang iya sedikit tapi lebih kepada, “ternyata kehadiran saya pernah menjadi sesuatu yang disyukuri seseorang.”

Karena sometimes, people don't need to become anything in our lives to have a meaningful impact. Ada orang yang cukup hadir, menunjukkan sisi baiknya, lalu membuat kita melihat dunia dengan sedikit lebih positif.

Dan untuk sekarang, saya cukup menikmati rasa “oh, ternyata masih ada ya” itu. Ternyata, masih ada laki-laki baik di dunia ini. Dan saya bersyukur pernah dipertemukan dengan salah satunya. 

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 

Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 


Halo! Spoiler Alert ⚠

Jangan baca ini kalo belum nonton atau bukan #teamspoiler ya, haha!

Disclaimer : ini bukan review ala-ala seperti di kebanyakan blog atau vlog orang-orang yang membahas detail dari a-z, tapi cuma impression saya sebagai penonton saja. Untuk yang belum tahu series ini menceritakan tentang apa mungkin bisa search sendiri di google atau bahkan bisa langsung tonton sendiri di Netflix.

Yijin Heedo ini adalah couple yang meant to be together, BUT, not meant to be last forever. Bittersweet ending mereka is truly one of a kind. They ended it like no one ever did in Kdrama history EVER. Nobody die, nobody cheat, gak ada yang pindah planet, gak ada yang amnesia, it's just life that made them grew apart. I won't call it sad ending because, yes although the separation is painful to watch, it's just inevitable for them, but in the end we can see that both of them have already came to terms with their separation and still cheer for each other's success while keep cherishing the memories they were once shared together.    

To call 2521 a masterpiece in Kdrama is almost feel like underrated statement karena emang SEBAGUS itu. I have no word to describe how WELL MADE this drama is. Tema cerita yang kompleks dan bermacam-macam mulai dari pencarian jati diri, mengejar impian, proses pendewasaan, persahabatan, keluarga, kerasnya dunia kerja, dan cinta bisa diceritakan dengan seapik ini, ngeblend banget, dan dideliver dengan ringan tapi bermakna lewat line dialog2nya yang deep, tapi gak boring sama sekali, dan "hook" nya itu smooth banget, gak perlu pake adegan2 super epic atau gmn, tapi bikin yang nonton tetep addicted dengan drama ini. Slow burn aja gitu.    

2521 ini mirip banget sama series Reply. Cuma bedanya, Reply itu lebih light dan bright, kalo 2521 lebih realistis dan berhasil banget capture gak cuma manisnya coming of age, tapi juga pahit-pahitnya growing up dari adolescence ke adulthood kayak ketika di 1 titik kita harus memilih antara nama baik vs keluarga (kayak Yurim), karir vs cinta (Yijin Heedo), masa depan cerah vs idealisme (Seungwan), karir vs keluarga (Ibu nya Heedo). It's tough man, and yes growing up is like that, growing up means that you need to understand that  you just can't have it all, and it's painful to sacrifice something/someone over the other, but life must goes on, and you need to learn to set your priorities in life.    

Dan saya juga suka banget sama cara 2521 menceritakan suka dukanya jd reporter, emang Kdrama gak pernah kaleng-kaleng utk menggambarkan identitas karakter-karakternya terutama dari sisi pekerjaannya, karakternya gak cuma label aja, tapi beneran digali dan bikin orang tuh paham ternyata kerjaan reporter se-demanding itu dan jujur baru tau kalo reporter sama subjectnya itu harus "jaga jarak" buat alasan yang emang masuk akal. Oh and how I love when the writer connected "maintaining the safe distance" plot from the POV of a reporter and a fencer (karena fencer pun juga harus selalu jaga jarak dengan lawannya di lapangan), brilliant! Ini luar biasa sih, berarti writernya 2521 ini gak cuma research soal kehidupan seorang fencer, tapi juga reporter, dll. Good job 2521! one of my favorite KDrama ever!     

I really recomend this drama, 9,5/10. By the way maaf ya teman-teman bahasanya campur aduk karena ini nulisnya disela-sela nugas kuliah. Luv u! #staysane #stayhealthy 
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments




Hidup adalah sebuah proses. Mungkin bagi anak muda yang baru keluar dari zona nyaman, dan memasuki dunia yang sebenarnya, belum bisa memahami makna dari kalimat itu. Seperti saya dulu, yang selalu berusaha mencari tau tentang passion saya, sosok seperti apa yang diri ini harus menjadi. Semua seakan-akan harus saya temukan saat itu juga. Setelah saya paham, saya membuat 20s journey dalam bentuk blog ini. Karena saya mengerti semua ini tentang perjalanan.

Sebelumnya saya bercerita bagaimana saya menghadapi situasi yang sangat jauh berbeda dari rencana dan ekspektasi saya. Termasuk soal arah karir yang berubah (yang kenal saya sejak lama pasti tau haha). Ternyata kalau kata orang yang sudah mengalaminya, "jalani aja dan kamu akan menemukannya", itu benar adanya. Tiba-tiba aja sekarang saya sudah berpindah, ke industri yang saya sukai (entah temporary or till the end). Nggak tau gimana caranya, tiba-tiba ada jalan untuk berada di titik ini. Terus nggak galau lagi dong? Selesai dong 20s journey ini? Jawabannya, nggak.

Ibu saya sering bercerita tentang shifting priorities (walaupun beliau nggak tau istilahnya apa), dimana orang-orang akan melalui ini pada waktunya. Ada yang prioritasnya bekerja, lalu di saat menikah, prioritasnya berganti menjadi keluarga. Ada yang prioritasnya mengejar jabatan, bisa suatu hari berubah menjadi hanya ingin work life balance. Ini bukan cuma soal dalam membagi waktu, tapi juga dalam menemukan esensi kebahagiaan. Yang awalnya merasa kebahagiaan itu adalah pekerjaan beres klien senang, sekarang merasa kebahagiaan itu adalah berkumpul bersama keluarga. Makanya kita nggak bisa menyalahkan sebenarnya kalau ada teman di kantor kita yang nggak se-excited itu tentang kerjaan, nggak menggebu-gebu, karena memang prioritasnya bukan disitu. Makanya ada beberapa orang justru ingin menjadi seorang ibu rumah tangga, bukan direktur perusahaan ternama, and that's a great choice too👍.                          
Dari dulu sampai kapanpun inshaAllah ibadah dan keluarga akan selalu menjadi prioritas utama karena menurut saya itulah sumber kebahagiaan yang sejati dan nggak bisa ditukar dengan apapun. Karena kadang mempertahankan dan being aware dengan apa yang sudah kita punya itu lebih sulit daripada mendapatkannya. Prinsip saya sekarang adalah bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain. Selalu berusaha menambah kualitas dan kapasitas diri, karena yang benar-benar memahami kemauan dan seberapa besar usaha kita ya hanya Allah dan diri sendiri. Dengan begitu saya nggak melulu fokus mempertanyakan mau jadi apa, tapi justru pertanyaannya adalah saya mau melakukan apa. Dan apapun prioritas barumu, itu nggak kalah keren daripada prioritasmu yang sebelumnya. Fokus aja dengan apa yang membuat hati puas dan bahagia. Selalu libatkan Yang Maha Pengatur dalam setiap hal.                                                                                                                            

*Rapunzel: I've been looking out of a window for eighteen years, dreaming about what I might feel like when those lights rise in the sky. What if it's not everything I dreamed it would be?             

*Flynn Rider: It will be.       
                                                    
*Rapunzel: And what if it is? What do I do then?                         
*Flynn Rider: Well, that's the good part I guess. You get to go find a new dream.                                                                                                                                                                                                                    

Stay safe and sane, kind people!                                                                                                                                                                        
Love, 

Humannisa 

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments

 



Sebagai orang yang cukup visioner atau bacanya overthinking, memikirkan masa depan yang samar selalu memicu anxiety. Pikiran selalu penuh dengan kalimat kalau nanti..., kalau nanti..., yang ujung-ujungnya bikin bingung dan pusing sendiri. Ujung-ujungnya nggak ada yang ingin kita lakukan karena merasa takut menghadapi sesuatu yang bahkan belum terjadi. Tapi, sekarang kayaknya semua itu udah jauh berkurang dan di sini saya ingin membagikan bagaimana saya bisa lebih legowo meskipun tetap ya namanya manusia, kadang perasaan itu bisa selalu muncul.

Kontemplasi ini berawal dari pertanyaan yang saya lihat diblog orang lain, "what did you learn in 2020?". Pertanyaan dia bukan tentang akademik atau kerjaan, tapi lebih ke kehidupan. Di situ saya berpikir, gila ya memang 2020 (bahkan 2021 ternyata lebih challenging haha). Pasti semua orang terdampak ntah dari aspek mana. Tapi bagi saya pribadi setelah berkontemplasi, saya merasa 2020 itu mengajarkan saya cara berserah. Setelah semua rencana atau keinginan, tapi ternyata manusia nggak punya kontrol untuk terus membuat sesuatu terjadi sesuai keinginannya. Ternyata selama ini itu terjadi karena Allah mengizinkan. Seberapapun mendukungnya keadaan, tapi kalau Allah bilang no, nggak akan terjadi. Tapi sebagaimanapun keadaan yang sulit sampai nggak bisa ada jalan keluarnya bagi pikiran manusia, kalau Allah bilang proceed, akan kejadian. Akhirnya saya lebih paham makna berserah.

Bukan artinya berserah adalah kita pasrah tanpa melakukan sesuatu. Kita tetap harus melakukan sesuatu untuk membuka jalan sebanyak-banyaknya, berharap salah satu jalannya dibukakan olehNya. Tapi berserah itu ketika di setiap usaha kita, kita kembalikan lagi kontrolnya dan keputusannya kepada Allah. Lepasin beban hidup kita untuk menuntut diri kita sebagai faktor utama atas semua yang terjadi. Ternyata hidup bisa jadi se-enteng itu.

Teringat juga sama obrolan saya dengan teman saya. Kita lagi membahas seseorang yang hidupnya lagi kena masalah dan kita cukup bersimpati atas keadaannya. Saya bertanya kenapa ya orang bisa kena masalah bertubi-tubi. Tapi, dia bilang ke saya bahwa walaupun pahit, itu memang proses hidup yang harus dia jalanin. Ketika seseorang sudah dipercayakan Allah untuk melalui proses itu, proses yang sakit itu nggak bisa dihindari, nggak ada yang bisa dilakukan selain dijalani. It hits me hard. Setiap merasa ketakutan akan satu proses hidup, saya sering kali panik dan nggak bisa berhenti mikirin. Padahal itu cuma soal waktu, karena ujung-ujungnya saya harus melewati jalan itu anyway. Dan Allah pasti bimbing dan bantu.

Setelah semalaman overthinking memikirkan sesuatu hal dan merasa cemas dengan masa depan, taunya besok paginya nggak sengaja muncul sebuah video di Youtube tentang orang yang membahas topik yang sama. Dia cerita bagaimana ini juga membuat dia overthinking bahkan pusing sendiri, tapi akhirnya emang impossible bagi kita belum tentu bagi Allah. Tapi emang nggak mudah jalannya, cuma bukan berarti salah atau nggak mungkin. Saya langsung merasa ini Allah seakan lagi bicara lewat video itu, hey don't worry :')

To be honest, saya pernah merasa capek dengan semua social media. Karena melihat kehidupan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal, terus merasa jadi pertanyaan kepada hidup saya sendiri. Akhirnya saya coba log out beberapa minggu sampai negativity itu berkurang. Tapi sekarang-sekarang ini saya sadar, bukan salah orang-orang atau social media. Tapi hati saya yang lagi bitter. Nggak apa juga kok kalau kalian merasa perlu sign out dari social media, do what is best for you. 

Setelah hati saya udah biasa aja, akhirnya melihat updates dari semua orang juga jadi lebih positif. Buat yang lagi merayakan kebahagiaan, bisa ikut bahagia dan mendoakan. Buat yang lagi cari perhatian di Instagram, it's okay juga bisa semudah skip kalau memang annoying. Buat yang lagi struggling dan menjalani proses hidup yang nggak mudah, bisa mendoakan dan sesimpel emoji menyemangati. Pernah ada masa saya melihat seorang teman yang hidupnya kelihatan menyenangkan dan mungkin sebutannya yolo banget nih orang. Tapi ternyata di tengah itu, dia lagi struggle akan sesuatu. Akhirnya saya tau, dia bukan lagi yolo, tapi dia lagi menghibur hatinya yang sedang berat mungkin. Emang social media suka menyoroti dari satu sisi kamera, tapi let's remind ourselves to see from the unseen angle.

Now, my mindset has changed. Let's be fearless. Apapun proses yang harus kita lalui. Biarkan masa depan menjadi misteri, dan percayakan segalanya pada Allah. Nggak ada satupun dan sekecil apapun yang luput dari perhatianNya. Apalagi sama kita yang berdoa, ibarat lagi ngetok pintu rumahNya. Pasti kedengeran.

Stay safe and sane.


Love, 


Humannisa
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Hidup jangan menebar kenegatifan. 
Mari budayakan untuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang terlihat remeh tapi berarti besar.

X : Weekend ini mau banyak baca aja ah
Y : Emang kenapa?
X : Nonton series ngga guna
Y : (tercyduk karena lebih suka nonton series)

Menjadi, 

X : Liburan ini mau banyak baca ah
Y : Emang kenapa?
X : Karena membaca membuka wawasan, terus aku juga baru direkomendasiin buku-buku bagus, dll dll dll.

Ada opsi untuk MENINGGIKAN tanpa MENJATUHKAN, berhenti menjadikan pandangan sinis terhadap suatu hal sebagai alasan untuk melakukan hal lain. Ada opsi untuk mendalami kelebihan dan kebaikan dari hal lain tersebut dan menjadikannya argumen yang merasionalkan.

Contoh lain:

X : Mau makan bakso ah
Y : Emang kenapa?
X : Karena mie ayam ga enak

Hal diatas kan ngga menjelaskan kenapa dia ngga malah milih siomay aja, kadang argumen  untuk merasionalisasi tindakan kita adalah sebuah statement negatif/pertidaksetujuan terhadap hal lain. Padahal, pertidaksetujuan ini tidak selalu menjustifikasi kenapa pilihannya harus menjadi spesifik ke sana.
  
Terdengarnya remeh banget kan? tapi secara ngga langsung perbuatan seperti itu sama aja kaya menebar kenegatifan, kenegatifan menjurus ke kebencian, dll. Gimana kalau terjadi pada hal yang lebih besar/serius? Dampaknya ngga baik buat mentallity diri sendiri dan orang lain, bahkan ada yang bisa berdampak serius.

Yang namanya negativity itu mau sedikit atau banyak tetep aja ngga baik, daripada dipelihara terus lama-lama jadi boomerang mending dihilangkan, ngga mesti tiba-tiba langsung jadi baik apalagi suci seketika karena emang manusia ngga luput dari salah dan khilaf. Tapi apa salahnya untuk mencoba menjadi lebih baik, lama-lama juga akan tebiasa.


Yuk sama-sama berubah perlahan!
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Older Posts

The Author



Humannisa

Readers

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • LOVE LESSON - Part 2

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (2)
  • JOURNEY (4)
  • LIFE (3)
  • REMINDER (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (3)
    • ▼  October (2)
      • We Know Better, But Do We?
      • Untitled
    • ►  February (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose