Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.
Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.
Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.
You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.
Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.
Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang khilaf/menyesal bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.
Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.
Love,
Humannisa💚




