Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY


Saya menulis ini hampir setahun yang lalu, tapi baru sekarang punya keberanian untuk membagikannya. Funny how time works, ya. Dulu, menuliskan hal-hal ini saja rasanya berat sekali. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, banyak perasaan yang belum bisa saya pahami, dan banyak hal yang waktu itu rasanya tidak adil untuk saya terima.

Hidup tanpa ibu rasanya ribuan kali lebih berat. Ada banyak momen ketika saya berharap masih punya tempat untuk pulang, seseorang yang bisa mendengarkan semua cerita saya tanpa perlu menjelaskan panjang lebar kenapa sesuatu terasa begitu menyakitkan. Dan ketika harus menghadapi kehilangan itu bersamaan dengan luka lainnya, rasanya seperti harus belajar bertahan di tengah keadaan yang bahkan belum sempat saya pahami.

Dari semua yang saya lalui, ada beberapa hal yang perlahan saya pahami saat ini. Hal-hal yang mungkin terdengar sederhana, tetapi ternyata mengubah cara saya melihat kehidupan, menghadapi luka, dan yang paling penting, menemukan kembali ketenangan dalam diri sendiri.

Stop looking for answers in things Allah has already allowed to happen.

Dulu, saya sering bertanya kenapa sesuatu harus terjadi, kenapa seseorang bisa memilih untuk menyakiti, dan kenapa hidup membawa saya ke situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya bahkan sempat mencoba mencari alasan dari keadaan orang lain, berharap dengan begitu saya bisa lebih mudah memahami apa yang terjadi. But the more I tried to find answers, the more exhausted I became.

Sampai akhirnya saya belajar bahwa tidak semua hal harus saya pahami untuk bisa saya terima. Tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, dan tidak semua kejadian harus punya penjelasan yang bisa saya mengerti sekarang. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali saya, termasuk pilihan orang lain. Tugas saya bukan terus-menerus mencari tahu kenapa mereka melakukannya, melainkan belajar bagaimana saya ingin melanjutkan hidup setelahnya.

Tawakal doesn't mean giving up. It means trusting Allah with what you cannot control.

Saya dulu berpikir bahwa menyerahkan hidup kepada Allah mungkin berarti harus belajar menerima banyak hal yang tidak sesuai keinginan. Padahal, ternyata lebih dari itu. It is about doing your best, making your prayers, taking the steps you can take, and trusting Allah with everything beyond your control.

Kalau dulu saya berdoa agar hidup berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan, sekarang saya lebih sering berdoa agar Allah membimbing saya menuju apa yang memang baik untuk saya. Kalau ada sesuatu yang membuat cemas, saya berusaha mengingat Allah. Kalau ada sesuatu yang membuat bahagia, saya juga mengingat Allah. Ketika ada yang berjalan sesuai harapan, saya bersyukur. Ketika ada yang tidak sesuai rencana, saya belajar menerima bahwa mungkin ada hal yang belum saya pahami. And somehow, life feels lighter this way.

Bukan karena masalah tiba-tiba hilang, bukan juga karena saya tidak pernah sedih atau takut lagi. Saya tetap manusia yang punya kekhawatiran, harapan, dan keinginan. Bedanya, sekarang saya tidak merasa harus memikirkan semuanya sendirian. Ada Allah yang bisa saya mintai pertolongan, ada doa yang bisa saya panjatkan, dan ada keyakinan bahwa saya tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan untuk tetap melangkah.

Peace comes when you stop trying to control everything and start trusting Allah more.

Ternyata, selama ini saya sering merasa lelah bukan hanya karena apa yang terjadi, tetapi juga karena saya terus berusaha mencari kepastian atas hal-hal yang memang tidak bisa saya kendalikan. Saya ingin tahu bagaimana semuanya akan berakhir, apakah pilihan saya benar, apakah saya akan baik-baik saja, dan apakah semua yang saya alami akan masuk akal suatu hari nanti.

Sekarang, saya belajar menjalani hidup dengan lebih sederhana. Ada cemas sedikit, ingat Allah. Ada bahagia sedikit, ingat Allah. Ada hal yang belum pasti, berdoa. Ada hal baik yang datang, bersyukur. Ada yang pergi, belajar mengikhlaskan. Not everything needs to be figured out today. Sometimes, I just need to do my part and leave the rest to Allah.

Dan jujur, rasanya menyenangkan sekali bisa sampai di fase ini. Fase ketika saya tidak lagi merasa harus mendapatkan semua jawaban untuk bisa merasa tenang. Fase ketika kebahagiaan tidak selalu bergantung pada apakah semua hal berjalan sesuai keinginan. Fase ketika saya bisa menikmati hal-hal kecil tanpa terlalu sibuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok.

Saya tidak tahu apakah ini yang disebut semakin dewasa, semakin mengenal diri sendiri, atau semakin belajar mengenal Allah. Mungkin semuanya. Yang saya tahu, hidup terasa jauh lebih ringan ketika saya berhenti menganggap bahwa semuanya harus berada dalam kendali saya.

Saya masih punya banyak hal yang ingin dicapai, banyak doa yang ingin dikabulkan, dan banyak harapan untuk masa depan. But now, I want to pursue them without forgetting to enjoy the life Allah has already given me.

Hampir setahun lalu, saya menulis semua ini dari tempat yang begitu berbeda. Hari ini, saya membacanya kembali dengan hati yang jauh lebih tenang. Bukan karena saya sudah melupakan semuanya, tetapi karena saya tidak lagi membawa semuanya dengan cara yang sama.

And if there's one thing I wish I had understood earlier, it is this: ternyata menyerahkan hidup kepada Allah tidak membuat kita kehilangan kendali atas hidup. Justru kita belajar membedakan mana yang memang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang sejak awal bukan milik kita untuk kendalikan.

Kita tetap berusaha, tetap punya keinginan, tetap boleh berharap. Hanya saja, kita tidak lagi harus memaksakan semuanya terjadi sesuai keinginan kita.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa bilang bahwa saya sedang berada di fase hidup yang lebih tenang dan bahagia. Bukan berarti setiap hari sempurna, tetapi hati saya tidak lagi harus ikut berantakan setiap kali hidup berjalan di luar rencana.

Ternyata, sesederhana itu ketika kita mulai benar-benar menitipkan hidup kepada Allah. Kita menjalani bagian kita sebaik mungkin, lalu membiarkan Allah mengurus bagian yang tidak mampu kita jangkau.

And honestly, there's so much peace in knowing that I don't have to figure everything out on my own. May Allah ease the hearts that are tired, calm the minds that are anxious, and give us the strength to trust His plans even when we don't understand them. May we find peace in knowing that we don't have to figure everything out on our own, because Allah has always been there. Aamiin. 

Sending so much love to you and your loved ones
.(づ ̄3 ̄)づ╭♡~

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Sometimes, I'm just tired. Cape rasanya membawa baggage dari hal-hal yang pernah terjadi dalam hidup saya, baik dari keluarga maupun hubungan sebelumnya. There are things that happened a long time ago, but somehow, their impact stays longer than I expected. Saya pikir waktu akan membuat semuanya terasa lebih ringan, but healing doesn't always work that way.

Ada hal-hal yang tanpa sadar mengubah cara saya melihat orang, cara saya merespons sesuatu, bahkan cara saya memulai hubungan baru. I used to think that getting to know someone should feel exciting, that I could simply enjoy the process and let things unfold naturally. Tapi sekarang, ada bagian dari diri saya yang selalu berhati-hati. I notice the little changes, the inconsistent communication, the sudden distance, and the way someone responds when things start getting serious.

And sometimes, I hate that I notice everything.

Yang lebih melelahkan, not everyone understands why I am the way I am. Hal yang menurut saya cukup mengkhawatirkan mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain. My reactions might seem unusual, my boundaries might feel too much, and my past might even be something they find scary. But I also understand that not everyone can understand what they have never experienced themselves.

Not everyone will understand your trauma, and not everyone has to. Saya tidak bisa memaksa orang lain memahami semua hal yang pernah saya lalui. I don't expect everyone to know how certain experiences have shaped me. Saya hanya berharap, ketika mereka tidak memahami, mereka tidak buru-buru menganggap saya aneh hanya karena cara saya menghadapi sesuatu berbeda dari mereka.

The truth is, all of this has changed the way I approach relationships. I'm more likely to walk away when someone starts showing signs of inconsistency, avoids difficult conversations, or seems unsure about their intentions. Kalau saya merasa seseorang mulai menghindar ketika hubungan membutuhkan kejelasan, saya cenderung memilih mundur daripada terus mengejar jawaban. Bahkan, saya bisa tidak peduli sama sekali dengan apa yang dia pikirkan tentang saya. Saya tidak lagi punya keinginan untuk meluruskan apa pun. Biarlah dia dengan opininya terhadap saya. Rasanya sudah terlalu lelah untuk hal itu. Karena kadang, mereka cuma mau melihat dan mendengar apa yang memang ingin mereka lihat dan dengar.

Not because I don't care. Sometimes, I care more than I want to admit. But I've learned that I cannot build something meaningful with someone who keeps making me question whether they even want to be there. Maybe I have become quicker to cut people off than I used to be. Maybe I no longer have the same patience for situations that feel uncertain. And I know that, from the outside, it might look like I'm giving up too easily. But sometimes, what looks like giving up is actually someone trying not to lose themselves again.

Still, I'm aware that there is a fine line between protecting myself and pushing people away out of fear. I don't want my past to make every new person look like a potential source of pain. I don't want to assume that everyone will eventually disappoint me just because some people did. I want to protect my peace without letting my trauma make every decision for me.

Karena tidak semua orang yang membutuhkan waktu berarti tidak serius. Not every misunderstanding is a red flag, and not every uncomfortable moment means something is about to go wrong. Relationships need patience, communication, and room for people to learn about each other. Tapi buat saya, effort and consistency still matter. I can be patient with someone who is genuinely trying, but I don't want to keep making excuses for someone who repeatedly avoids showing up.

I don't need someone perfect. I just want someone who is willing to communicate, someone who doesn't disappear when things get uncomfortable, and someone whose actions make their intentions clear. Someone who understands that consistency is not about being available every second, but about making the other person feel that they don't have to keep guessing where they stand.

And honestly, I'm tired of having to convince myself that inconsistency is something I should learn to tolerate. At the same time, I'm still learning how to let people in. To give someone a fair chance without ignoring my boundaries. To communicate my fears instead of immediately withdrawing. To understand that being vulnerable doesn't automatically mean I'm putting myself in danger. It's not easy. Some days, I feel like I've made progress. Other days, I notice myself going back to old patterns, preparing to leave before someone even has the chance to hurt me. And I have to remind myself that healing is not about never being afraid again. It's about learning how to respond to that fear without letting it control everything.

I don't want to spend my life in survival mode. I want to experience love without constantly anticipating loss. I want to enjoy getting to know someone without overanalyzing every little change. I want to trust someone because their actions have shown me that they are trustworthy, not because I'm desperately trying to convince myself that everything will be okay. Maybe I'm not there yet, and that's okay. For now, I'm learning to be kinder to myself. I'm learning that I can acknowledge the things that hurt me without allowing them to define my entire identity. My trauma may explain some of my reactions, but it doesn't have to determine the person I become.

Saya juga belajar bahwa I don't have to explain my entire past to everyone who enters my life. Some people will understand, some won't, and some simply aren't meant to know every part of me. I can choose what to share, when to share it, and with whom I feel safe enough to be vulnerable. I hope that one day, all these experiences won't feel like baggage I have to carry into every new relationship. I hope I can remain cautious without becoming cold, have boundaries without always preparing to leave, and love someone without feeling like I have to sacrifice my peace to keep them. I'm still healing, still learning, still figuring out how to let people in without losing myself in the process.

And maybe that's enough for now. I don't have to be completely healed to deserve good things. I just have to keep doing the work, keep being honest with myself, and keep reminding myself that my past is part of my story, but it doesn't have to be the ending.

Love,  
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Ada satu hal yang belakangan ini sering saya pikirkan: sometimes, knowing how something hurts doesn't automatically mean we know how to avoid becoming the person who causes that hurt.

Kita bisa tumbuh dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat diperlakukan dengan buruk, melihat bagaimana seseorang yang kita sayang pernah kecewa, kehilangan kepercayaan, atau harus menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka lalui. Kita tahu persis bagaimana rasanya melihat orang yang dekat dengan kita disakiti. Bahkan mungkin pernah terlintas, “Kalau suatu hari saya punya hubungan sendiri, saya nggak mau menjadi orang seperti itu.”

But knowing the pain is one thing. Learning from it is another.

Karena pengalaman buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai pelajaran dan berusaha memutus pola yang sama. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru mengulang sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri mungkin dengan cara yang berbeda, mungkin dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit yang kurang lebih sama.

Dan menurut saya, itu cukup menarik untuk direnungkan. Karena manusia memang bisa sangat aware terhadap sesuatu ketika menjadi korban, tetapi belum tentu memiliki awareness yang sama ketika berada di posisi yang berbeda.

Saya sendiri juga masih belajar soal ini, I’ve made mistakes, reacted emotionally, said things I probably shouldn't have said dan mungkin pernah menyakiti orang tanpa benar-benar memahami dampaknya saat itu. Jadi tulisan ini bukan tentang merasa lebih baik dari siapa pun. Justru sebaliknya, mungkin ini reminder untuk diri sendiri juga. Karena self-reflection bukan hanya tentang menyadari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi juga berani melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Kita bisa tahu mana yang salah. Bisa tahu bagaimana rasanya dikhianati. Bisa tahu bagaimana rasanya diabaikan. Bisa tahu bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita sayang diperlakukan tidak baik. Tapi ketika hidup membawa kita ke situasi yang sama, kita tetap harus memilih bagaimana akan bersikap.

Ketika sedang marah, apakah kita tetap bisa menjaga cara bicara? Ketika sedang kecewa, apakah kita memilih komunikasi atau mencari pelarian? Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan menyakiti orang lain, apakah kita tetap melakukannya hanya karena sedang mengikuti perasaan?

Maybe that's where the real lesson is.

Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Karena saya rasa tidak ada yang seperti itu. Tapi tentang mau berhenti sebentar dan bertanya, “Kalau saya tahu persis bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini, kenapa saya masih mungkin melakukan hal yang sama kepada orang lain?” Kita semua membawa sesuatu dari keluarga, masa lalu, dan pengalaman masing-masing. Ada hal-hal yang membentuk kita dengan baik, ada juga pola yang mungkin perlu kita sadari dan pelan-pelan kita putus.

Dan mungkin prosesnya memang tidak selalu mudah. Sometimes we repeat what we haven't fully healed from. Sometimes we hurt people while we're still figuring ourselves out. Sometimes we only realize the impact of our actions after the moment has passed. Saya pun masih belajar tentang itu.

Belajar untuk lebih aware sebelum bertindak. Belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari sisi sendiri. Belajar untuk bertanya bukan hanya “apa yang saya rasakan?”, tapi juga “bagaimana tindakan saya mungkin dirasakan oleh orang lain?” Because knowing better doesn't automatically make us better. It takes reflection, humility, and a conscious effort to do differently.

Dan mungkin untuk sekarang, saya tidak perlu mengklaim sudah benar-benar mengerti semuanya. Cukup terus belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang sudah saya tahu bisa menyakiti, sambil tetap memberi ruang untuk diri sendiri dan orang lain untuk bertumbuh. Still learning. Still reflecting. Still trying to do better.

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai menyadari bahwa keberhasilan sebuah hubungan tidak selalu diukur dari seberapa lama dua orang bertahan bersama. Karena kenyataannya, waktu bukanlah indikator utama dari kualitas sebuah hubungan.

Ada hubungan yang berlangsung bertahun-tahun, tetapi dipenuhi ketidakjelasan, ketidaktenangan, dan luka yang terus berulang. Sebaliknya, ada pula hubungan yang mungkin tidak sempurna, tetapi membawa pertumbuhan, ketenangan, dan banyak kebaikan bagi kedua orang di dalamnya.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, "Siapa yang akan paling lama bersama?" Melainkan, "Siapa yang membawa kebaikan dalam hidup?". Karena bersama saja tidak selalu cukup.

The truth is, not everyone who stays makes life better.

Ada orang yang hadir tetapi justru menguras energi. Ada yang selalu ada secara fisik, namun tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang. Ada pula yang membuat seseorang terus mempertanyakan dirinya sendiri bahkan kehilangan arah. 

Padahal hidup pada dasarnya sudah cukup menantang. Ada tanggung jawab yang harus dijalani, kehilangan yang harus diterima, kegagalan yang harus dihadapi, dan masa depan yang tidak selalu bisa diprediksi. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran orang yang tepat seharusnya tidak menambah beban, melainkan membantu membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Bukan karena mereka mampu menyelesaikan semua masalah. Tetapi karena mereka memilih untuk berjalan bersama saat masalah itu datang.

A good partner is not someone who makes life perfect.
A good partner is someone who makes life easier to face.

Mereka hadir dengan niat untuk saling membahagiakan, bukan saling mengalahkan. Mereka belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, bukan terus berfokus pada apa yang kurang. Mereka memahami bahwa hubungan tidak dibangun hanya dengan rasa cinta, tetapi juga dengan kesabaran, komitmen, dan kemampuan untuk memaafkan.

Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang sempurna. Akan selalu ada kesalahan. Akan selalu ada perbedaan. Akan selalu ada masa-masa sulit yang menguji hubungan. Namun yang membedakan adalah apakah kedua orang tersebut memiliki kemauan untuk tetap berusaha, tetap belajar, dan tetap memilih satu sama lain ketika keadaan tidak lagi mudah.

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang dipenuhi niat baik untuk terus membawa kebaikan bagi satu sama lain. Dan mungkin, itulah alasan mengapa bersama orang yang tepat terasa berbeda. Bukan karena hidup menjadi tanpa ujian. Tetapi karena setiap ujian terasa lebih mungkin untuk dilewati.

Because in the end, what truly matters is not how long someone stays. It's whether their presence brings you closer to peace, growth, gratitude, and the best version of yourself. Karena bersama orang yang tepat dan membawa kebaikan akan selalu jauh lebih berharga daripada sekadar bersama. 

Love,
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 


Halo! Spoiler Alert ⚠

Jangan baca ini kalo belum nonton atau bukan #teamspoiler ya, haha!

Disclaimer : ini bukan review ala-ala seperti di kebanyakan blog atau vlog orang-orang yang membahas detail dari a-z, tapi cuma impression saya sebagai penonton saja. Untuk yang belum tahu series ini menceritakan tentang apa mungkin bisa search sendiri di google atau bahkan bisa langsung tonton sendiri di Netflix.

Yijin Heedo ini adalah couple yang meant to be together, BUT, not meant to be last forever. Bittersweet ending mereka is truly one of a kind. They ended it like no one ever did in Kdrama history EVER. Nobody die, nobody cheat, gak ada yang pindah planet, gak ada yang amnesia, it's just life that made them grew apart. I won't call it sad ending because, yes although the separation is painful to watch, it's just inevitable for them, but in the end we can see that both of them have already came to terms with their separation and still cheer for each other's success while keep cherishing the memories they were once shared together.    

To call 2521 a masterpiece in Kdrama is almost feel like underrated statement karena emang SEBAGUS itu. I have no word to describe how WELL MADE this drama is. Tema cerita yang kompleks dan bermacam-macam mulai dari pencarian jati diri, mengejar impian, proses pendewasaan, persahabatan, keluarga, kerasnya dunia kerja, dan cinta bisa diceritakan dengan seapik ini, ngeblend banget, dan dideliver dengan ringan tapi bermakna lewat line dialog2nya yang deep, tapi gak boring sama sekali, dan "hook" nya itu smooth banget, gak perlu pake adegan2 super epic atau gmn, tapi bikin yang nonton tetep addicted dengan drama ini. Slow burn aja gitu.    

2521 ini mirip banget sama series Reply. Cuma bedanya, Reply itu lebih light dan bright, kalo 2521 lebih realistis dan berhasil banget capture gak cuma manisnya coming of age, tapi juga pahit-pahitnya growing up dari adolescence ke adulthood kayak ketika di 1 titik kita harus memilih antara nama baik vs keluarga (kayak Yurim), karir vs cinta (Yijin Heedo), masa depan cerah vs idealisme (Seungwan), karir vs keluarga (Ibu nya Heedo). It's tough man, and yes growing up is like that, growing up means that you need to understand that  you just can't have it all, and it's painful to sacrifice something/someone over the other, but life must goes on, and you need to learn to set your priorities in life.    

Dan saya juga suka banget sama cara 2521 menceritakan suka dukanya jd reporter, emang Kdrama gak pernah kaleng-kaleng utk menggambarkan identitas karakter-karakternya terutama dari sisi pekerjaannya, karakternya gak cuma label aja, tapi beneran digali dan bikin orang tuh paham ternyata kerjaan reporter se-demanding itu dan jujur baru tau kalo reporter sama subjectnya itu harus "jaga jarak" buat alasan yang emang masuk akal. Oh and how I love when the writer connected "maintaining the safe distance" plot from the POV of a reporter and a fencer (karena fencer pun juga harus selalu jaga jarak dengan lawannya di lapangan), brilliant! Ini luar biasa sih, berarti writernya 2521 ini gak cuma research soal kehidupan seorang fencer, tapi juga reporter, dll. Good job 2521! one of my favorite KDrama ever!     

I really recomend this drama, 9,5/10. By the way maaf ya teman-teman bahasanya campur aduk karena ini nulisnya disela-sela nugas kuliah. Luv u! #staysane #stayhealthy 
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments




Hidup adalah sebuah proses. Mungkin bagi anak muda yang baru keluar dari zona nyaman, dan memasuki dunia yang sebenarnya, belum bisa memahami makna dari kalimat itu. Seperti saya dulu, yang selalu berusaha mencari tau tentang passion saya, sosok seperti apa yang diri ini harus menjadi. Semua seakan-akan harus saya temukan saat itu juga. Setelah saya paham, saya membuat 20s journey dalam bentuk blog ini. Karena saya mengerti semua ini tentang perjalanan.

Sebelumnya saya bercerita bagaimana saya menghadapi situasi yang sangat jauh berbeda dari rencana dan ekspektasi saya. Termasuk soal arah karir yang berubah (yang kenal saya sejak lama pasti tau haha). Ternyata kalau kata orang yang sudah mengalaminya, "jalani aja dan kamu akan menemukannya", itu benar adanya. Tiba-tiba aja sekarang saya sudah berpindah, ke industri yang saya sukai (entah temporary or till the end). Nggak tau gimana caranya, tiba-tiba ada jalan untuk berada di titik ini. Terus nggak galau lagi dong? Selesai dong 20s journey ini? Jawabannya, nggak.

Ibu saya sering bercerita tentang shifting priorities (walaupun beliau nggak tau istilahnya apa), dimana orang-orang akan melalui ini pada waktunya. Ada yang prioritasnya bekerja, lalu di saat menikah, prioritasnya berganti menjadi keluarga. Ada yang prioritasnya mengejar jabatan, bisa suatu hari berubah menjadi hanya ingin work life balance. Ini bukan cuma soal dalam membagi waktu, tapi juga dalam menemukan esensi kebahagiaan. Yang awalnya merasa kebahagiaan itu adalah pekerjaan beres klien senang, sekarang merasa kebahagiaan itu adalah berkumpul bersama keluarga. Makanya kita nggak bisa menyalahkan sebenarnya kalau ada teman di kantor kita yang nggak se-excited itu tentang kerjaan, nggak menggebu-gebu, karena memang prioritasnya bukan disitu. Makanya ada beberapa orang justru ingin menjadi seorang ibu rumah tangga, bukan direktur perusahaan ternama, and that's a great choice too👍.                          
Dari dulu sampai kapanpun inshaAllah ibadah dan keluarga akan selalu menjadi prioritas utama karena menurut saya itulah sumber kebahagiaan yang sejati dan nggak bisa ditukar dengan apapun. Karena kadang mempertahankan dan being aware dengan apa yang sudah kita punya itu lebih sulit daripada mendapatkannya. Prinsip saya sekarang adalah bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain. Selalu berusaha menambah kualitas dan kapasitas diri, karena yang benar-benar memahami kemauan dan seberapa besar usaha kita ya hanya Allah dan diri sendiri. Dengan begitu saya nggak melulu fokus mempertanyakan mau jadi apa, tapi justru pertanyaannya adalah saya mau melakukan apa. Dan apapun prioritas barumu, itu nggak kalah keren daripada prioritasmu yang sebelumnya. Fokus aja dengan apa yang membuat hati puas dan bahagia. Selalu libatkan Yang Maha Pengatur dalam setiap hal.                                                                                                                            

*Rapunzel: I've been looking out of a window for eighteen years, dreaming about what I might feel like when those lights rise in the sky. What if it's not everything I dreamed it would be?             

*Flynn Rider: It will be.       
                                                    
*Rapunzel: And what if it is? What do I do then?                         
*Flynn Rider: Well, that's the good part I guess. You get to go find a new dream.                                                                                                                                                                                                                    

Stay safe and sane, kind people!                                                                                                                                                                        
Love, 

Humannisa 

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

The Author



Humannisa

Views

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • LOVE LESSON - Part 2

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (2)
  • JOURNEY (6)
  • LIFE (4)
  • REMINDER (2)
  • REVIEWS (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (5)
    • ▼  October (3)
      • The Things I Never Got to Say
      • Weights Not Mine
      • We Know Better, But Do We?
    • ►  June (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose