Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY


Padahal hidup tidak akan selalu sempurna. Kita tidak akan selalu perform. Tidak akan selalu kuat, selalu siap, selalu baik-baik saja. Saya baru benar-benar menyadari itu ketika melihat Ibu saya sakit.

Seseorang yang sepanjang hidupnya “lurus-lurus saja”. Baik, tenang, tidak pernah berniat menyakiti orang lain. Tapi qodarullah, Allah beri ujian di akhir hidupnya. Dan di situ saya diam. Berpikir lama. Kalau seseorang sebaik itu saja tetap diuji, lalu apa sebenarnya yang sedang kita kejar dalam hidup?

It made me realize, hidup ini sangat terbatas. Not just time. But energy. But chances. But moments. Ada limit di setiap fase. Ada hal-hal yang tidak bisa kita ulang. Ada waktu yang tidak bisa kita tarik kembali.

Dan yang paling terasa, kedamaian itu bukan sesuatu yang tiba-tiba datang di akhir. Tapi sesuatu yang dibangun dari cara kita hidup sejak awal. Saya sering berpikir, what if my mother lived differently? Bagaimana kalau beliau bukan orang yang baik? Bagaimana kalau hidupnya penuh menyakiti orang lain? Mungkin di akhir hidupnya tidak akan setenang itu. Mungkin tidak akan ada rasa cukup. Mungkin tidak akan ada penerimaan.

And that thought humbles me. Bahwa hidup bukan tentang terlihat sempurna. Tapi tentang bagaimana kita menjalani setiap fase dengan benar, dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kesadaran bahwa semuanya ada batasnya.

Dan dari situ, saya mulai melihat hal lain dengan lebih jernih, termasuk soal pasangan hidup. Hidup ini sudah cukup berat. Dengan ujian, kehilangan, ketidakpastian. Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya jika dijalani bersama seseorang yang tidak punya komitmen dan integritas.

Because in the end, a partner is not just someone you love, but someone who helps you survive life with more ease. Seseorang yang mau berusaha membahagiakan, bukan hanya hadir saat mudah. Yang belajar bersyukur bersama, bukan terus merasa kurang. Yang mau memaafkan, bukan menyimpan kesalahan.

Because love is not just about feeling. It’s about choosing each other again and again, especially when it’s hard. Tidak perlu yang sempurna tapi yang mau berusaha. Yang sadar bahwa hidup ini terbatas, jadi tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan ego, gengsi, atau ketidakpastian.

Karena kalau hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan, maka pasangan adalah teman duduk di sebelah kita. Kalau dia tidak tenang, perjalanan akan terasa lebih berat. Kalau dia tidak peduli, perjalanan akan terasa sepi. Tapi kalau dia tepat, bahkan jalan yang jauh pun terasa lebih ringan.

Life is limited. So choose someone who makes it feel meaningful. Dan mungkin pada akhirnya, hidup ini seperti sebuah titipan waktu yang perlahan akan kembali satu per satu.

“Some endings are not meant to scare us, but to remind us to live more sincerely before they arrive.”

Dan di titik ini, saya menuliskan semua ini dengan hati yang penuh. Saya menitihkan air mata… mengingat sosok Ebok. Sosok yang sederhana, tapi begitu dalam. Yang mungkin tidak sempurna di mata dunia, tapi begitu tenang dalam cara hidupnya.

Saya berharap suatu hari nanti, saya bisa punya hati sebaik itu. Aamiin.

Selamat menikmati penghujung bulan Ramadhan semua! semoga kita selalu diampuni, dilindungi, dan diberkahi. 

Love,
Humannisa 💚

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 

Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 


Halo! Spoiler Alert ⚠

Jangan baca ini kalo belum nonton atau bukan #teamspoiler ya, haha!

Disclaimer : ini bukan review ala-ala seperti di kebanyakan blog atau vlog orang-orang yang membahas detail dari a-z, tapi cuma impression saya sebagai penonton saja. Untuk yang belum tahu series ini menceritakan tentang apa mungkin bisa search sendiri di google atau bahkan bisa langsung tonton sendiri di Netflix.

Yijin Heedo ini adalah couple yang meant to be together, BUT, not meant to be last forever. Bittersweet ending mereka is truly one of a kind. They ended it like no one ever did in Kdrama history EVER. Nobody die, nobody cheat, gak ada yang pindah planet, gak ada yang amnesia, it's just life that made them grew apart. I won't call it sad ending because, yes although the separation is painful to watch, it's just inevitable for them, but in the end we can see that both of them have already came to terms with their separation and still cheer for each other's success while keep cherishing the memories they were once shared together.    

To call 2521 a masterpiece in Kdrama is almost feel like underrated statement karena emang SEBAGUS itu. I have no word to describe how WELL MADE this drama is. Tema cerita yang kompleks dan bermacam-macam mulai dari pencarian jati diri, mengejar impian, proses pendewasaan, persahabatan, keluarga, kerasnya dunia kerja, dan cinta bisa diceritakan dengan seapik ini, ngeblend banget, dan dideliver dengan ringan tapi bermakna lewat line dialog2nya yang deep, tapi gak boring sama sekali, dan "hook" nya itu smooth banget, gak perlu pake adegan2 super epic atau gmn, tapi bikin yang nonton tetep addicted dengan drama ini. Slow burn aja gitu.    

2521 ini mirip banget sama series Reply. Cuma bedanya, Reply itu lebih light dan bright, kalo 2521 lebih realistis dan berhasil banget capture gak cuma manisnya coming of age, tapi juga pahit-pahitnya growing up dari adolescence ke adulthood kayak ketika di 1 titik kita harus memilih antara nama baik vs keluarga (kayak Yurim), karir vs cinta (Yijin Heedo), masa depan cerah vs idealisme (Seungwan), karir vs keluarga (Ibu nya Heedo). It's tough man, and yes growing up is like that, growing up means that you need to understand that  you just can't have it all, and it's painful to sacrifice something/someone over the other, but life must goes on, and you need to learn to set your priorities in life.    

Dan saya juga suka banget sama cara 2521 menceritakan suka dukanya jd reporter, emang Kdrama gak pernah kaleng-kaleng utk menggambarkan identitas karakter-karakternya terutama dari sisi pekerjaannya, karakternya gak cuma label aja, tapi beneran digali dan bikin orang tuh paham ternyata kerjaan reporter se-demanding itu dan jujur baru tau kalo reporter sama subjectnya itu harus "jaga jarak" buat alasan yang emang masuk akal. Oh and how I love when the writer connected "maintaining the safe distance" plot from the POV of a reporter and a fencer (karena fencer pun juga harus selalu jaga jarak dengan lawannya di lapangan), brilliant! Ini luar biasa sih, berarti writernya 2521 ini gak cuma research soal kehidupan seorang fencer, tapi juga reporter, dll. Good job 2521! one of my favorite KDrama ever!     

I really recomend this drama, 9,5/10. By the way maaf ya teman-teman bahasanya campur aduk karena ini nulisnya disela-sela nugas kuliah. Luv u! #staysane #stayhealthy 
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments




Hidup adalah sebuah proses. Mungkin bagi anak muda yang baru keluar dari zona nyaman, dan memasuki dunia yang sebenarnya, belum bisa memahami makna dari kalimat itu. Seperti saya dulu, yang selalu berusaha mencari tau tentang passion saya, sosok seperti apa yang diri ini harus menjadi. Semua seakan-akan harus saya temukan saat itu juga. Setelah saya paham, saya membuat 20s journey dalam bentuk blog ini. Karena saya mengerti semua ini tentang perjalanan.

Sebelumnya saya bercerita bagaimana saya menghadapi situasi yang sangat jauh berbeda dari rencana dan ekspektasi saya. Termasuk soal arah karir yang berubah (yang kenal saya sejak lama pasti tau haha). Ternyata kalau kata orang yang sudah mengalaminya, "jalani aja dan kamu akan menemukannya", itu benar adanya. Tiba-tiba aja sekarang saya sudah berpindah, ke industri yang saya sukai (entah temporary or till the end). Nggak tau gimana caranya, tiba-tiba ada jalan untuk berada di titik ini. Terus nggak galau lagi dong? Selesai dong 20s journey ini? Jawabannya, nggak.

Ibu saya sering bercerita tentang shifting priorities (walaupun beliau nggak tau istilahnya apa), dimana orang-orang akan melalui ini pada waktunya. Ada yang prioritasnya bekerja, lalu di saat menikah, prioritasnya berganti menjadi keluarga. Ada yang prioritasnya mengejar jabatan, bisa suatu hari berubah menjadi hanya ingin work life balance. Ini bukan cuma soal dalam membagi waktu, tapi juga dalam menemukan esensi kebahagiaan. Yang awalnya merasa kebahagiaan itu adalah pekerjaan beres klien senang, sekarang merasa kebahagiaan itu adalah berkumpul bersama keluarga. Makanya kita nggak bisa menyalahkan sebenarnya kalau ada teman di kantor kita yang nggak se-excited itu tentang kerjaan, nggak menggebu-gebu, karena memang prioritasnya bukan disitu. Makanya ada beberapa orang justru ingin menjadi seorang ibu rumah tangga, bukan direktur perusahaan ternama, and that's a great choice too👍.                          
Dari dulu sampai kapanpun inshaAllah ibadah dan keluarga akan selalu menjadi prioritas utama karena menurut saya itulah sumber kebahagiaan yang sejati dan nggak bisa ditukar dengan apapun. Karena kadang mempertahankan dan being aware dengan apa yang sudah kita punya itu lebih sulit daripada mendapatkannya. Prinsip saya sekarang adalah bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain. Selalu berusaha menambah kualitas dan kapasitas diri, karena yang benar-benar memahami kemauan dan seberapa besar usaha kita ya hanya Allah dan diri sendiri. Dengan begitu saya nggak melulu fokus mempertanyakan mau jadi apa, tapi justru pertanyaannya adalah saya mau melakukan apa. Dan apapun prioritas barumu, itu nggak kalah keren daripada prioritasmu yang sebelumnya. Fokus aja dengan apa yang membuat hati puas dan bahagia. Selalu libatkan Yang Maha Pengatur dalam setiap hal.                                                                                                                            

*Rapunzel: I've been looking out of a window for eighteen years, dreaming about what I might feel like when those lights rise in the sky. What if it's not everything I dreamed it would be?             

*Flynn Rider: It will be.       
                                                    
*Rapunzel: And what if it is? What do I do then?                         
*Flynn Rider: Well, that's the good part I guess. You get to go find a new dream.                                                                                                                                                                                                                    

Stay safe and sane, kind people!                                                                                                                                                                        
Love, 

Humannisa 

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments

 



Sebagai orang yang cukup visioner atau bacanya overthinking, memikirkan masa depan yang samar selalu memicu anxiety. Pikiran selalu penuh dengan kalimat kalau nanti..., kalau nanti..., yang ujung-ujungnya bikin bingung dan pusing sendiri. Ujung-ujungnya nggak ada yang ingin kita lakukan karena merasa takut menghadapi sesuatu yang bahkan belum terjadi. Tapi, sekarang kayaknya semua itu udah jauh berkurang dan di sini saya ingin membagikan bagaimana saya bisa lebih legowo meskipun tetap ya namanya manusia, kadang perasaan itu bisa selalu muncul.

Kontemplasi ini berawal dari pertanyaan yang saya lihat diblog orang lain, "what did you learn in 2020?". Pertanyaan dia bukan tentang akademik atau kerjaan, tapi lebih ke kehidupan. Di situ saya berpikir, gila ya memang 2020 (bahkan 2021 ternyata lebih challenging haha). Pasti semua orang terdampak ntah dari aspek mana. Tapi bagi saya pribadi setelah berkontemplasi, saya merasa 2020 itu mengajarkan saya cara berserah. Setelah semua rencana atau keinginan, tapi ternyata manusia nggak punya kontrol untuk terus membuat sesuatu terjadi sesuai keinginannya. Ternyata selama ini itu terjadi karena Allah mengizinkan. Seberapapun mendukungnya keadaan, tapi kalau Allah bilang no, nggak akan terjadi. Tapi sebagaimanapun keadaan yang sulit sampai nggak bisa ada jalan keluarnya bagi pikiran manusia, kalau Allah bilang proceed, akan kejadian. Akhirnya saya lebih paham makna berserah.

Bukan artinya berserah adalah kita pasrah tanpa melakukan sesuatu. Kita tetap harus melakukan sesuatu untuk membuka jalan sebanyak-banyaknya, berharap salah satu jalannya dibukakan olehNya. Tapi berserah itu ketika di setiap usaha kita, kita kembalikan lagi kontrolnya dan keputusannya kepada Allah. Lepasin beban hidup kita untuk menuntut diri kita sebagai faktor utama atas semua yang terjadi. Ternyata hidup bisa jadi se-enteng itu.

Teringat juga sama obrolan saya dengan teman saya. Kita lagi membahas seseorang yang hidupnya lagi kena masalah dan kita cukup bersimpati atas keadaannya. Saya bertanya kenapa ya orang bisa kena masalah bertubi-tubi. Tapi, dia bilang ke saya bahwa walaupun pahit, itu memang proses hidup yang harus dia jalanin. Ketika seseorang sudah dipercayakan Allah untuk melalui proses itu, proses yang sakit itu nggak bisa dihindari, nggak ada yang bisa dilakukan selain dijalani. It hits me hard. Setiap merasa ketakutan akan satu proses hidup, saya sering kali panik dan nggak bisa berhenti mikirin. Padahal itu cuma soal waktu, karena ujung-ujungnya saya harus melewati jalan itu anyway. Dan Allah pasti bimbing dan bantu.

Setelah semalaman overthinking memikirkan sesuatu hal dan merasa cemas dengan masa depan, taunya besok paginya nggak sengaja muncul sebuah video di Youtube tentang orang yang membahas topik yang sama. Dia cerita bagaimana ini juga membuat dia overthinking bahkan pusing sendiri, tapi akhirnya emang impossible bagi kita belum tentu bagi Allah. Tapi emang nggak mudah jalannya, cuma bukan berarti salah atau nggak mungkin. Saya langsung merasa ini Allah seakan lagi bicara lewat video itu, hey don't worry :')

To be honest, saya pernah merasa capek dengan semua social media. Karena melihat kehidupan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal, terus merasa jadi pertanyaan kepada hidup saya sendiri. Akhirnya saya coba log out beberapa minggu sampai negativity itu berkurang. Tapi sekarang-sekarang ini saya sadar, bukan salah orang-orang atau social media. Tapi hati saya yang lagi bitter. Nggak apa juga kok kalau kalian merasa perlu sign out dari social media, do what is best for you. 

Setelah hati saya udah biasa aja, akhirnya melihat updates dari semua orang juga jadi lebih positif. Buat yang lagi merayakan kebahagiaan, bisa ikut bahagia dan mendoakan. Buat yang lagi cari perhatian di Instagram, it's okay juga bisa semudah skip kalau memang annoying. Buat yang lagi struggling dan menjalani proses hidup yang nggak mudah, bisa mendoakan dan sesimpel emoji menyemangati. Pernah ada masa saya melihat seorang teman yang hidupnya kelihatan menyenangkan dan mungkin sebutannya yolo banget nih orang. Tapi ternyata di tengah itu, dia lagi struggle akan sesuatu. Akhirnya saya tau, dia bukan lagi yolo, tapi dia lagi menghibur hatinya yang sedang berat mungkin. Emang social media suka menyoroti dari satu sisi kamera, tapi let's remind ourselves to see from the unseen angle.

Now, my mindset has changed. Let's be fearless. Apapun proses yang harus kita lalui. Biarkan masa depan menjadi misteri, dan percayakan segalanya pada Allah. Nggak ada satupun dan sekecil apapun yang luput dari perhatianNya. Apalagi sama kita yang berdoa, ibarat lagi ngetok pintu rumahNya. Pasti kedengeran.

Stay safe and sane.


Love, 


Humannisa
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Hidup jangan menebar kenegatifan. 
Mari budayakan untuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang terlihat remeh tapi berarti besar.

X : Weekend ini mau banyak baca aja ah
Y : Emang kenapa?
X : Nonton series ngga guna
Y : (tercyduk karena lebih suka nonton series)

Menjadi, 

X : Liburan ini mau banyak baca ah
Y : Emang kenapa?
X : Karena membaca membuka wawasan, terus aku juga baru direkomendasiin buku-buku bagus, dll dll dll.

Ada opsi untuk MENINGGIKAN tanpa MENJATUHKAN, berhenti menjadikan pandangan sinis terhadap suatu hal sebagai alasan untuk melakukan hal lain. Ada opsi untuk mendalami kelebihan dan kebaikan dari hal lain tersebut dan menjadikannya argumen yang merasionalkan.

Contoh lain:

X : Mau makan bakso ah
Y : Emang kenapa?
X : Karena mie ayam ga enak

Hal diatas kan ngga menjelaskan kenapa dia ngga malah milih siomay aja, kadang argumen  untuk merasionalisasi tindakan kita adalah sebuah statement negatif/pertidaksetujuan terhadap hal lain. Padahal, pertidaksetujuan ini tidak selalu menjustifikasi kenapa pilihannya harus menjadi spesifik ke sana.
  
Terdengarnya remeh banget kan? tapi secara ngga langsung perbuatan seperti itu sama aja kaya menebar kenegatifan, kenegatifan menjurus ke kebencian, dll. Gimana kalau terjadi pada hal yang lebih besar/serius? Dampaknya ngga baik buat mentallity diri sendiri dan orang lain, bahkan ada yang bisa berdampak serius.

Yang namanya negativity itu mau sedikit atau banyak tetep aja ngga baik, daripada dipelihara terus lama-lama jadi boomerang mending dihilangkan, ngga mesti tiba-tiba langsung jadi baik apalagi suci seketika karena emang manusia ngga luput dari salah dan khilaf. Tapi apa salahnya untuk mencoba menjadi lebih baik, lama-lama juga akan tebiasa.


Yuk sama-sama berubah perlahan!
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


And here some bloody inspiring quotes i found by blogwalking these days :

"People were created to be loved, Things were created to be used, The reason why the world is in chaos, Is because things are being loved, and people are being used."

"Biggest communication problem is, We do not listen to understand.
We listen just to reply."

"Do not educate your child to be rich, educate them to be happy. So when he grows up, he'll know the value of everything. Not the price.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Older Posts

The Author



Humannisa

Readers

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • CONTEMPLATION PART 1 : RELATIONSHIP WITH GOD

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (2)
  • JOURNEY (4)
  • LIFE (4)
  • REMINDER (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  March (1)
      • Limited
    • ►  February (1)
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose