Ada satu hal yang belakangan ini sering saya pikirkan: sometimes, knowing how something hurts doesn't automatically mean we know how to avoid becoming the person who causes that hurt.
Kita bisa tumbuh dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat diperlakukan dengan buruk, melihat bagaimana seseorang yang kita sayang pernah kecewa, kehilangan kepercayaan, atau harus menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka lalui. Kita tahu persis bagaimana rasanya melihat orang yang dekat dengan kita disakiti. Bahkan mungkin pernah terlintas, “Kalau suatu hari saya punya hubungan sendiri, saya nggak mau menjadi orang seperti itu.”
But knowing the pain is one thing. Learning from it is another.
Karena pengalaman buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai pelajaran dan berusaha memutus pola yang sama. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru mengulang sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri mungkin dengan cara yang berbeda, mungkin dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit yang kurang lebih sama.
Dan menurut saya, itu cukup menarik untuk direnungkan. Karena manusia memang bisa sangat aware terhadap sesuatu ketika menjadi korban, tetapi belum tentu memiliki awareness yang sama ketika berada di posisi yang berbeda.
Saya sendiri juga masih belajar soal ini, I’ve made mistakes, reacted emotionally, said things I probably shouldn't have said dan mungkin pernah menyakiti orang tanpa benar-benar memahami dampaknya saat itu. Jadi tulisan ini bukan tentang merasa lebih baik dari siapa pun. Justru sebaliknya, mungkin ini reminder untuk diri sendiri juga. Karena self-reflection bukan hanya tentang menyadari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi juga berani melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Kita bisa tahu mana yang salah. Bisa tahu bagaimana rasanya dikhianati. Bisa tahu bagaimana rasanya diabaikan. Bisa tahu bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita sayang diperlakukan tidak baik. Tapi ketika hidup membawa kita ke situasi yang sama, kita tetap harus memilih bagaimana akan bersikap.
Ketika sedang marah, apakah kita tetap bisa menjaga cara bicara? Ketika sedang kecewa, apakah kita memilih komunikasi atau mencari pelarian? Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan menyakiti orang lain, apakah kita tetap melakukannya hanya karena sedang mengikuti perasaan?
Maybe that's where the real lesson is.
Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Karena saya rasa tidak ada yang seperti itu. Tapi tentang mau berhenti sebentar dan bertanya, “Kalau saya tahu persis bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini, kenapa saya masih mungkin melakukan hal yang sama kepada orang lain?” Kita semua membawa sesuatu dari keluarga, masa lalu, dan pengalaman masing-masing. Ada hal-hal yang membentuk kita dengan baik, ada juga pola yang mungkin perlu kita sadari dan pelan-pelan kita putus.
Dan mungkin prosesnya memang tidak selalu mudah. Sometimes we repeat what we haven't fully healed from. Sometimes we hurt people while we're still figuring ourselves out. Sometimes we only realize the impact of our actions after the moment has passed. Saya pun masih belajar tentang itu.
Belajar untuk lebih aware sebelum bertindak. Belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari sisi sendiri. Belajar untuk bertanya bukan hanya “apa yang saya rasakan?”, tapi juga “bagaimana tindakan saya mungkin dirasakan oleh orang lain?” Because knowing better doesn't automatically make us better. It takes reflection, humility, and a conscious effort to do differently.
Dan mungkin untuk sekarang, saya tidak perlu mengklaim sudah benar-benar mengerti semuanya. Cukup terus belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang sudah saya tahu bisa menyakiti, sambil tetap memberi ruang untuk diri sendiri dan orang lain untuk bertumbuh. Still learning. Still reflecting. Still trying to do better.
Love,
Humannisa💚





