Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY


Akhir-akhir ini lagi suka nulis hal-hal yang berkaitan sama "Feeling", karena spektrum rasa itu benar-benar luas dan abstrak, tapi justru seru untuk diulik, hihi. 

Dulu saya mengira cinta yang besar itu selalu terasa keras. Penuh gejolak, emosi naik turun, perasaan yang bikin deg-degan. Yang bikin jantung berisik dan pikiran penuh. Saya kira, kalau tidak terasa intens, berarti tidak cukup berarti.

Turns out, I was wrong.

Ada cinta yang datang tidak dengan suara keras. Tidak menuntut. Tidak dramatis. Ia hadir dengan konsistensi, dengan kesabaran, dengan niat yang tidak perlu diumumkan. Dan justru karena terlalu tenang, ia sering tidak disadari.

Sometimes we don’t realize we broke something rare, until we meet love that feels louder, but not deeper.

Saya pernah melewatkan cinta seperti itu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena saya belum cukup dewasa untuk mengenalinya. Saya terlalu sibuk mengejar perasaan yang menggebu, sampai lupa bertanya: apakah ini membuat saya aman?

The quiet, steady love is easy to overlook. Karena ia tidak membuat kita cemas. Tidak membuat kita bertanya-tanya setiap hari. Tidak membuat kita takut kehilangan. Dan ironisnya, justru karena itu ia terasa “biasa”. Padahal, cinta yang tidak membuat kita gelisah sering kali adalah cinta yang paling sehat.

Saya baru sadar belakangan, ada perbedaan besar antara chemistry dan capacity.

Chemistry is about sparks.
Capacity is about staying.

Chemistry membuat kita tertarik, Capacity membuat kita bertahan. Chemistry bisa hadir dengan banyak orang. Tapi Capacity itu kemampuan untuk mencintai dengan konsisten, dewasa, dan bertanggung jawab tidak dimiliki semua orang.

Some people love you with both, and that combination doesn’t come around twice. Dan ketika seseorang mencintai kita dengan chemistry dan capacity, tapi kita belum siap menerimanya, sering kali kita menjadi orang yang pergi. Bukan karena cinta itu kurang, tapi karena kita belum tahu cara menghargainya.

I didn’t mean to break something rare, I just didn’t know it was rare. Penyesalan terbesar sering kali bukan tentang kehilangan orang yang salah, tapi tentang melepas orang yang benar di waktu yang salah. Orang yang mencintai kita tanpa harus melukai diri sendiri. Orang yang memilih kita tanpa membuat kita merasa harus berubah menjadi versi lain.

Sekarang saya lebih hati-hati. Bukan hanya soal siapa yang saya cintai, tapi bagaimana saya memperlakukan perasaan orang lain. Karena saya tahu, tidak semua orang mencintai dengan cara yang sama. Dan tidak semua hati bisa pulih dengan mudah.

Be careful whose heart you break.
Not every love comes twice.
Not every loss can be undone.

Dan jika suatu hari cinta datang lagi, saya berharap saya cukup sadar untuk mengenali mana yang hanya terasa keras, dan mana yang benar-benar dalam.

Love,
Humannisa ðŸ’š

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Dulu saya sering mengira bahwa setiap orang yang datang membawa perasaan pasti akan menetap. Bahwa koneksi yang terasa dalam berarti takdir. Tapi semakin bertumbuh, saya belajar satu hal sederhana yang pelan-pelan mengubah cara saya memandang cinta dan kehilangan. 

Tidak semua yang hadir ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Ada yang datang untuk menemani di satu fase, lalu pergi saat pelajaran itu selesai. Dan itu tidak membuat cerita tersebut menjadi gagal, justru itu yang membuatnya bermakna.

Saya pernah menaruh ekspektasi pada seseorang yang saya pikir akan menjadi tujuan akhir. I gave my time, my trust, my hopes. Tapi ternyata, perannya hanya sebagai bagian dari perjalanan, bukan tempat berlabuh. Dan butuh waktu lama bagi saya untuk berdamai dengan kenyataan itu. Ending doesn’t always mean rejection. Sometimes it means completion. 

Kalau saya jujur pada diri sendiri, ada fase di mana cara saya menyayangi menjadi tidak sehat. Bukan karena niat buruk, tapi karena kurangnya self-reflection. Saya begitu fokus pada dia, pada potensinya, pada masa depannya, sampai lupa menengok diri sendiri. Saking toxic-nya pola pikir saya saat itu, saya bahkan pernah berpikir: tidak apa-apa kalau saya hanya jadi supporter saja. Melihat dia bersinar sudah cukup buat saya. And honestly, that's is quiet silly and horrible, haha.

Dan tanpa sadar, saya menempatkan diri di bangku penonton hidup orang lain. Mengabaikan mimpi, dan suara saya sendiri. I confused love with self-erasure. Saya kira itu bentuk ketulusan, padahal itu tanda saya kehilangan diri sendiri. Loving someone should not require disappearing.

Kehilangan orang-orang penting dalam hidup saya, termasuk Ibu, yang membuat saya cenderung mengikat terlalu kuat. Saya takut kehilangan lagi, jadi saya berusaha mempertahankan apa pun yang terasa dekat. Tanpa sadar, saya sering menyamakan kehadiran dengan kepastian. Some chapters are painful, but they teach you where you abandoned yourself.

Padahal, tidak semua yang kita cintai harus kita miliki selamanya. Ada orang-orang yang datang untuk mengajarkan keberanian, ada yang mengajarkan batasan, ada pula yang mengajarkan cara melepaskan. Mereka mungkin tidak tinggal, tapi pengaruhnya menetap. And that counts.

Saya belajar bahwa takdir bukan selalu tentang siapa yang bertahan, tapi tentang siapa yang mengubah kita. Tentang siapa yang membuat kita lebih sadar akan diri sendiri, lebih jujur pada kebutuhan kita, dan lebih lembut pada luka yang kita bawa.

Some chapters are short, some are painful, some change the entire story. Sekarang saya tidak lagi memaksa setiap hubungan untuk memiliki masa depan. Saya belajar menikmati kehadiran tanpa menuntut keabadian. Jika seseorang memilih pergi, saya tidak lagi melihatnya sebagai kegagalan diri saya.

It was a chapter and the chapters end so the story can move forward. Saya tetap membawa kenangan itu dengan hormat, tanpa dendam, tanpa penyesalan berlebihan. Karena di satu titik dalam hidup saya, mereka pernah menjadi bagian dari cerita saya. And I am grateful for what they taught me.

Pelan-pelan, dengan kesadaran, dengan hati yang lebih utuh. Stay happy and blessed everyone!

Love,
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 

Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

The Author



Humannisa

Readers

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • CONTEMPLATION PART 1 : RELATIONSHIP WITH GOD

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (2)
  • JOURNEY (4)
  • LIFE (3)
  • REMINDER (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (3)
    • ▼  February (3)
      • Be Careful Whose Heart You Break
      • Some People Are a Chapter, Not a Destiny
      • LOVE LESSON - Part 2
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose