Powered by Blogger.

ITS BEEN A JOURNEY



Ada satu hal yang belakangan ini sering saya pikirkan: sometimes, knowing how something hurts doesn't automatically mean we know how to avoid becoming the person who causes that hurt.

Kita bisa tumbuh dengan melihat sendiri bagaimana orang-orang terdekat diperlakukan dengan buruk, melihat bagaimana seseorang yang kita sayang pernah kecewa, kehilangan kepercayaan, atau harus menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu mereka lalui. Kita tahu persis bagaimana rasanya melihat orang yang dekat dengan kita disakiti. Bahkan mungkin pernah terlintas, “Kalau suatu hari saya punya hubungan sendiri, saya nggak mau menjadi orang seperti itu.”

But knowing the pain is one thing. Learning from it is another.

Karena pengalaman buruk tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai pelajaran dan berusaha memutus pola yang sama. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru mengulang sesuatu yang pernah mereka lihat sendiri mungkin dengan cara yang berbeda, mungkin dalam situasi yang berbeda, tetapi tetap meninggalkan rasa sakit yang kurang lebih sama.

Dan menurut saya, itu cukup menarik untuk direnungkan. Karena manusia memang bisa sangat aware terhadap sesuatu ketika menjadi korban, tetapi belum tentu memiliki awareness yang sama ketika berada di posisi yang berbeda.

Saya sendiri juga masih belajar soal ini, I’ve made mistakes, reacted emotionally, said things I probably shouldn't have said dan mungkin pernah menyakiti orang tanpa benar-benar memahami dampaknya saat itu. Jadi tulisan ini bukan tentang merasa lebih baik dari siapa pun. Justru sebaliknya, mungkin ini reminder untuk diri sendiri juga. Karena self-reflection bukan hanya tentang menyadari bagaimana orang lain memperlakukan kita. Tapi juga berani melihat bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Kita bisa tahu mana yang salah. Bisa tahu bagaimana rasanya dikhianati. Bisa tahu bagaimana rasanya diabaikan. Bisa tahu bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita sayang diperlakukan tidak baik. Tapi ketika hidup membawa kita ke situasi yang sama, kita tetap harus memilih bagaimana akan bersikap.

Ketika sedang marah, apakah kita tetap bisa menjaga cara bicara? Ketika sedang kecewa, apakah kita memilih komunikasi atau mencari pelarian? Ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu akan menyakiti orang lain, apakah kita tetap melakukannya hanya karena sedang mengikuti perasaan?

Maybe that's where the real lesson is.

Bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah salah. Karena saya rasa tidak ada yang seperti itu. Tapi tentang mau berhenti sebentar dan bertanya, “Kalau saya tahu persis bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini, kenapa saya masih mungkin melakukan hal yang sama kepada orang lain?” Kita semua membawa sesuatu dari keluarga, masa lalu, dan pengalaman masing-masing. Ada hal-hal yang membentuk kita dengan baik, ada juga pola yang mungkin perlu kita sadari dan pelan-pelan kita putus.

Dan mungkin prosesnya memang tidak selalu mudah. Sometimes we repeat what we haven't fully healed from. Sometimes we hurt people while we're still figuring ourselves out. Sometimes we only realize the impact of our actions after the moment has passed. Saya pun masih belajar tentang itu.

Belajar untuk lebih aware sebelum bertindak. Belajar untuk tidak hanya melihat sesuatu dari sisi sendiri. Belajar untuk bertanya bukan hanya “apa yang saya rasakan?”, tapi juga “bagaimana tindakan saya mungkin dirasakan oleh orang lain?” Because knowing better doesn't automatically make us better. It takes reflection, humility, and a conscious effort to do differently.

Dan mungkin untuk sekarang, saya tidak perlu mengklaim sudah benar-benar mengerti semuanya. Cukup terus belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang sudah saya tahu bisa menyakiti, sambil tetap memberi ruang untuk diri sendiri dan orang lain untuk bertumbuh. Still learning. Still reflecting. Still trying to do better.

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments






Kadang, kita tidak butuh waktu yang lama untuk menyadari sesuatu. Bukan karena sudah mengenal seseorang sampai jauh, bukan juga karena sudah melewati banyak hal bersama. Sometimes, it’s just one tiny moment yang entah kenapa membuat kita berpikir,
“Oh… ternyata masih ada laki-laki baik di dunia ini.”

Mungkin karena semakin dewasa, kita jadi lebih peka terhadap hal-hal yang tidak dibuat-buat. Kita bisa membedakan seseorang yang memang punya respect dari seseorang yang hanya tahu bagaimana cara terlihat respectful. Because being nice in front of people is easy, tapi bagaimana seseorang bersikap ketika tidak sedang berusaha mengesankan siapa-siapa, somehow tells you a lot.

Dan salah satu hal yang menurut saya menarik dari laki-laki yang baik adalah bagaimana dia memperlakukan perempuan. Bukan sekadar gentleman dalam arti membukakan pintu atau menawarkan bantuan, tapi bagaimana dia benar-benar menghargai perempuan sebagai manusia yang punya pikiran, pilihan, batasan dan kehidupan sendiri.

Ada laki-laki yang ketika berbicara tentang perempuan, somehow selalu ingin merasa lebih tahu, lebih kuat, atau lebih berkuasa. Tapi ada juga yang justru genuinely mengagumi perempuan. Menghargai cara perempuan berpikir, menghargai kerja kerasnya, mendukung ambisinya dan tidak merasa terancam hanya karena perempuan di sebelahnya punya kemampuan dan pendirian sendiri.

And I think that kind of respect is attractive.

Bukan karena perempuan membutuhkan laki-laki untuk mengagungkannya, no, perempuan tetap bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Tapi rasanya berbeda ketika berada di dekat seseorang yang tidak membuat kita merasa harus mengecil agar dia bisa merasa besar.

Ada satu hal lagi yang mungkin terdengar sederhana, tapi justru cukup rare menurut saya: self-control. Saya baru sadar bahwa selama ini saya mungkin cukup sering melihat orang yang punya keinginan, emosi, atau kesempatan untuk melakukan sesuatu, tapi tidak selalu punya kemampuan untuk menahan diri.

Sedangkan orang baru ini somehow punya kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri dengan cara yang belum pernah saya temui sebelumnya. Bukan dalam arti dingin atau tidak punya keinginan, tapi justru karena dia tahu bahwa having the ability to do something doesn't mean you should do it.

Dia tahu batas, tahu kapan harus berhenti, tahu bagaimana membawa dirinya sendiri tanpa harus selalu mengikuti apa yang sedang dia rasakan. Dan menurut saya, itu salah satu bentuk maturity yang sering underrated. Because self-control is not about having no temptation, no emotion, or no desire. It’s about knowing that you have a choice in how you respond to them.

Mungkin bagi orang lain ini bukan sesuatu yang besar. Tapi setelah melewati cukup banyak pengalaman, saya jadi melihat bahwa karakter seseorang justru sering kelihatan dari bagaimana dia mengendalikan dirinya ketika sebenarnya dia could do otherwise.

Dan jujur, saya belum pernah menemukan kombinasi seperti itu sebelumnya. Someone who can be warm without being careless, respectful without trying too hard and somehow still knows how to keep his boundaries.

Saya juga semakin percaya bahwa karakter seseorang sering terlihat dari hal-hal kecil. Cara dia memperlakukan keluarganya, cara dia berbicara kepada orang yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya, cara dia merespons ketika berbeda pendapat, cara dia memperlakukan perempuan yang tidak sedang dia coba dapatkan. Bahkan cara dia memperlakukan dirinya sendiri ketika tidak ada yang melihat.

Because sometimes, the smallest gestures reveal the biggest things.

Dan mungkin ini bukan tentang seseorang yang baru dikenal lalu tiba-tiba dianggap the one. Please, let's not get ahead of ourselves haha. Masih terlalu banyak hal yang belum terlihat, masih banyak sisi yang belum dikenal, dan tentu saja manusia tidak bisa dinilai hanya dari beberapa momen baik.

Tapi saya rasa tidak ada salahnya mengakui satu hal sederhana: setelah melihat banyak hal dalam hidup, rasanya cukup menyenangkan ketika bertemu seseorang yang mengingatkan kita bahwa good men still exist. Bukan berarti dia sempurna, bukan berarti setiap hal tentang dia pasti akan cocok dan bukan berarti beberapa gesture baik otomatis membuktikan keseluruhan karakter seseorang.

And just in case this somehow reaches the person I’m talking about (maaf kalau tulisan ini terdengar sedikit terlalu manis). This is not me trying to flirt with you, saya cuma ingin mengabadikan satu hal yang menurut saya layak disyukuri: bahwa di satu titik dalam hidup, saya dipertemukan dengan seseorang yang lewat hal-hal kecilnya berhasil mengingatkan saya bahwa masih ada laki-laki yang tahu bagaimana cara menghormati, menghargai, mengagumi perempuan dan yang paling penting, tahu bagaimana mengendalikan dirinya sendiri.

Tidak ada maksud untuk memberi label apa pun pada pertemuan ini. I’m simply grateful that our paths crossed. Dan kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, saya harap yang kamu tangkap bukan “wah, ini pasti tentang saya” hehe, mungkin memang iya sedikit tapi lebih kepada, “ternyata kehadiran saya pernah menjadi sesuatu yang disyukuri seseorang.”

Karena sometimes, people don't need to become anything in our lives to have a meaningful impact. Ada orang yang cukup hadir, menunjukkan sisi baiknya, lalu membuat kita melihat dunia dengan sedikit lebih positif.

Dan untuk sekarang, saya cukup menikmati rasa “oh, ternyata masih ada ya” itu. Ternyata, masih ada laki-laki baik di dunia ini. Dan saya bersyukur pernah dipertemukan dengan salah satunya. 

Love,
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai menyadari bahwa keberhasilan sebuah hubungan tidak selalu diukur dari seberapa lama dua orang bertahan bersama. Karena kenyataannya, waktu bukanlah indikator utama dari kualitas sebuah hubungan.

Ada hubungan yang berlangsung bertahun-tahun, tetapi dipenuhi ketidakjelasan, ketidaktenangan, dan luka yang terus berulang. Sebaliknya, ada pula hubungan yang mungkin tidak sempurna, tetapi membawa pertumbuhan, ketenangan, dan banyak kebaikan bagi kedua orang di dalamnya.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, "Siapa yang akan paling lama bersama?" Melainkan, "Siapa yang membawa kebaikan dalam hidup?". Karena bersama saja tidak selalu cukup.

The truth is, not everyone who stays makes life better.

Ada orang yang hadir tetapi justru menguras energi. Ada yang selalu ada secara fisik, namun tidak pernah benar-benar menjadi tempat pulang. Ada pula yang membuat seseorang terus mempertanyakan dirinya sendiri bahkan kehilangan arah. 

Padahal hidup pada dasarnya sudah cukup menantang. Ada tanggung jawab yang harus dijalani, kehilangan yang harus diterima, kegagalan yang harus dihadapi, dan masa depan yang tidak selalu bisa diprediksi. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran orang yang tepat seharusnya tidak menambah beban, melainkan membantu membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Bukan karena mereka mampu menyelesaikan semua masalah. Tetapi karena mereka memilih untuk berjalan bersama saat masalah itu datang.

A good partner is not someone who makes life perfect.
A good partner is someone who makes life easier to face.

Mereka hadir dengan niat untuk saling membahagiakan, bukan saling mengalahkan. Mereka belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, bukan terus berfokus pada apa yang kurang. Mereka memahami bahwa hubungan tidak dibangun hanya dengan rasa cinta, tetapi juga dengan kesabaran, komitmen, dan kemampuan untuk memaafkan.

Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang sempurna. Akan selalu ada kesalahan. Akan selalu ada perbedaan. Akan selalu ada masa-masa sulit yang menguji hubungan. Namun yang membedakan adalah apakah kedua orang tersebut memiliki kemauan untuk tetap berusaha, tetap belajar, dan tetap memilih satu sama lain ketika keadaan tidak lagi mudah.

Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang dipenuhi niat baik untuk terus membawa kebaikan bagi satu sama lain. Dan mungkin, itulah alasan mengapa bersama orang yang tepat terasa berbeda. Bukan karena hidup menjadi tanpa ujian. Tetapi karena setiap ujian terasa lebih mungkin untuk dilewati.

Because in the end, what truly matters is not how long someone stays. It's whether their presence brings you closer to peace, growth, gratitude, and the best version of yourself. Karena bersama orang yang tepat dan membawa kebaikan akan selalu jauh lebih berharga daripada sekadar bersama. 

Love,
Humannisa💚
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Belakangan ini makin sadar kalau cinta itu nggak selalu tentang hubungan romantis yang estetik kayak di feed IG. Kadang justru tentang hal-hal kecil yang nggak pernah kita pikirin sebelumnya. Tentang diri sendiri, boundaries, dan keberanian buat jujur, bahkan saat jujur itu bikin nggak nyaman.

Love doesn’t mean losing yourself.
Kita hidup di era serba cepat. Cepat jatuh suka, cepat attach, cepat overthinking. Kadang tanpa sadar kita mulai mengubah diri sendiri demi tetap “cocok”. Ngurangin mimpi, ngerem ambisi, atau pura-pura kuat biar nggak ditinggal. Padahal, cinta yang sehat itu bukan yang bikin kita mengecil, tapi justru yang bikin kita berani tumbuh. Kalau harus mengorbankan diri sendiri demi bertahan, mungkin itu bukan cinta tapi takut kehilangan.

Healing is not linear, and that’s okay.
Ada hari di mana kita ngerasa udah move on. Besoknya? Keinget lagi. Terus nyalahin diri sendiri karena “kok belum sembuh-sembuh sih”. Padahal, proses pulih itu nggak lurus. Kadang maju, kadang mundur dikit. Dan itu manusiawi. Kita sering dituntut buat “cepat sembuh, cepat bahagia”, padahal nggak apa-apa kok kalau capek sebentar. Healing bukan lomba, dan nggak ada deadline-nya.

You can love deeply without tolerating disrespect.
Ini pelajaran yang kayaknya paling susah. Karena sering kali kita salah kaprah antara sabar dan bertahan di tempat yang salah. Kita belajar memaklumi, sampai lupa kalau kita juga pantas dihargai. Cinta nggak pernah minta kita buat menutup mata terhadap sikap yang menyakitkan. Boundaries bukan tanda egois, tapi tanda kita menghargai diri sendiri.

Sometimes love means letting go.
Nggak semua yang kita sayang harus kita miliki. Ada hubungan yang datang cuma buat ngajarin, bukan buat menetap. Dan walaupun sakit, melepaskan kadang jadi bentuk cinta paling dewasa, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena memaksa bertahan di sesuatu yang sudah nggak sehat cuma akan melukai semua pihak.

Choose people who choose you, consistently.
Bukan yang datang pas sepi, lalu hilang pas kita butuh. Bukan yang bilang “aku peduli” tapi tindakannya kosong. Bukan juga yang hari ini minta maaf bilang "khilaf/menyesal" bahkan sampai sangat meyakinkan dengan gimmick air mata tapi ketika diuji, besoknya langsung kembali ke "kesalahan". Dan ironically kita hidup di era words are cheap. Jadi mungkin sekarang saatnya lebih percaya ke aksi, bukan janji. Yang tulus nggak bikin kita nebak-nebak perasaan.

Akhir kata, Love Lesson part 2 ini lagi-lagi kayak surat buat diri sendiri. Pengingat kalau hidup nggak harus selalu rapi, hubungan nggak harus selalu sempurna, dan kita nggak harus selalu kuat. Pelan-pelan aja. Selama kita jujur sama diri sendiri, belajar dari yang kemarin, dan tetap mau bertumbuh itu sudah lebih dari cukup.

Love, 
Humannisa💚

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

The Author



Humannisa

Readers

Popular Posts

  • Self Love is the only way to Get Love
  • Meninggikan Tanpa Menjatuhkan
  • Things I learned In My Early 20s
  • Respect is Earned, not Given
  • LOVE LESSON - Part 2

Categories

  • COLLEGE (1)
  • INNER PEACE (2)
  • JOURNEY (4)
  • LIFE (3)
  • REMINDER (1)

Blog Archive

  • ▼  2026 (4)
    • ▼  October (2)
      • We Know Better, But Do We?
      • Untitled
    • ►  June (1)
      • The Goal Was Never Just to Stay
    • ►  February (1)
      • LOVE LESSON - Part 2
  • ►  2024 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  March (1)

Wikipedia

Search results

Translate

Created with by ThemeXpose