Some People Are a Chapter, Not a Destiny

by - 17:01


Dulu saya sering mengira bahwa setiap orang yang datang membawa perasaan pasti akan menetap. Bahwa koneksi yang terasa dalam berarti takdir. Tapi semakin bertumbuh, saya belajar satu hal sederhana yang pelan-pelan mengubah cara saya memandang cinta dan kehilangan. 

Tidak semua yang hadir ditakdirkan untuk tinggal selamanya. Ada yang datang untuk menemani di satu fase, lalu pergi saat pelajaran itu selesai. Dan itu tidak membuat cerita tersebut menjadi gagal, justru itu yang membuatnya bermakna.

Saya pernah menaruh ekspektasi pada seseorang yang saya pikir akan menjadi tujuan akhir. I gave my time, my trust, my hopes. Tapi ternyata, perannya hanya sebagai bagian dari perjalanan, bukan tempat berlabuh. Dan butuh waktu lama bagi saya untuk berdamai dengan kenyataan itu. Ending doesn’t always mean rejection. Sometimes it means completion. 

Kalau saya jujur pada diri sendiri, ada fase di mana cara saya menyayangi menjadi tidak sehat. Bukan karena niat buruk, tapi karena kurangnya self-reflection. Saya begitu fokus pada dia, pada potensinya, pada masa depannya, sampai lupa menengok diri sendiri. Saking toxic-nya pola pikir saya saat itu, saya bahkan pernah berpikir: tidak apa-apa kalau saya hanya jadi supporter saja. Melihat dia bersinar sudah cukup buat saya. And honestly, that's is quiet silly and horrible, haha.

Dan tanpa sadar, saya menempatkan diri di bangku penonton hidup orang lain. Mengabaikan mimpi, dan suara saya sendiri. I confused love with self-erasure. Saya kira itu bentuk ketulusan, padahal itu tanda saya kehilangan diri sendiri. Loving someone should not require disappearing.

Kehilangan orang-orang penting dalam hidup saya, termasuk Ibu, yang membuat saya cenderung mengikat terlalu kuat. Saya takut kehilangan lagi, jadi saya berusaha mempertahankan apa pun yang terasa dekat. Tanpa sadar, saya sering menyamakan kehadiran dengan kepastian. Some chapters are painful, but they teach you where you abandoned yourself.

Padahal, tidak semua yang kita cintai harus kita miliki selamanya. Ada orang-orang yang datang untuk mengajarkan keberanian, ada yang mengajarkan batasan, ada pula yang mengajarkan cara melepaskan. Mereka mungkin tidak tinggal, tapi pengaruhnya menetap. And that counts.

Saya belajar bahwa takdir bukan selalu tentang siapa yang bertahan, tapi tentang siapa yang mengubah kita. Tentang siapa yang membuat kita lebih sadar akan diri sendiri, lebih jujur pada kebutuhan kita, dan lebih lembut pada luka yang kita bawa.

Some chapters are short, some are painful, some change the entire story. Sekarang saya tidak lagi memaksa setiap hubungan untuk memiliki masa depan. Saya belajar menikmati kehadiran tanpa menuntut keabadian. Jika seseorang memilih pergi, saya tidak lagi melihatnya sebagai kegagalan diri saya.

It was a chapter and the chapters end so the story can move forward. Saya tetap membawa kenangan itu dengan hormat, tanpa dendam, tanpa penyesalan berlebihan. Karena di satu titik dalam hidup saya, mereka pernah menjadi bagian dari cerita saya. And I am grateful for what they taught me.

Pelan-pelan, dengan kesadaran, dengan hati yang lebih utuh. Stay happy and blessed everyone!

Love,
Humannisa💚

You May Also Like

0 comments