Padahal hidup tidak akan selalu sempurna. Kita tidak akan selalu perform. Tidak akan selalu kuat, selalu siap, selalu baik-baik saja. Saya baru benar-benar menyadari itu ketika melihat Ibu saya sakit.
Seseorang yang sepanjang hidupnya “lurus-lurus saja”. Baik, tenang, tidak pernah berniat menyakiti orang lain. Tapi qodarullah, Allah beri ujian di akhir hidupnya. Dan di situ saya diam. Berpikir lama. Kalau seseorang sebaik itu saja tetap diuji, lalu apa sebenarnya yang sedang kita kejar dalam hidup?
It made me realize, hidup ini sangat terbatas. Not just time. But energy. But chances. But moments. Ada limit di setiap fase. Ada hal-hal yang tidak bisa kita ulang. Ada waktu yang tidak bisa kita tarik kembali.
Dan yang paling terasa, kedamaian itu bukan sesuatu yang tiba-tiba datang di akhir. Tapi sesuatu yang dibangun dari cara kita hidup sejak awal. Saya sering berpikir, what if my mother lived differently? Bagaimana kalau beliau bukan orang yang baik? Bagaimana kalau hidupnya penuh menyakiti orang lain? Mungkin di akhir hidupnya tidak akan setenang itu. Mungkin tidak akan ada rasa cukup. Mungkin tidak akan ada penerimaan.
And that thought humbles me. Bahwa hidup bukan tentang terlihat sempurna. Tapi tentang bagaimana kita menjalani setiap fase dengan benar, dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kesadaran bahwa semuanya ada batasnya.
Dan dari situ, saya mulai melihat hal lain dengan lebih jernih, termasuk soal pasangan hidup. Hidup ini sudah cukup berat. Dengan ujian, kehilangan, ketidakpastian. Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya jika dijalani bersama seseorang yang tidak punya komitmen dan integritas.
Because in the end, a partner is not just someone you love, but someone who helps you survive life with more ease. Seseorang yang mau berusaha membahagiakan, bukan hanya hadir saat mudah. Yang belajar bersyukur bersama, bukan terus merasa kurang. Yang mau memaafkan, bukan menyimpan kesalahan.
Because love is not just about feeling. It’s about choosing each other again and again, especially when it’s hard. Tidak perlu yang sempurna tapi yang mau berusaha. Yang sadar bahwa hidup ini terbatas, jadi tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan ego, gengsi, atau ketidakpastian.
Karena kalau hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan, maka pasangan adalah teman duduk di sebelah kita. Kalau dia tidak tenang, perjalanan akan terasa lebih berat. Kalau dia tidak peduli, perjalanan akan terasa sepi. Tapi kalau dia tepat, bahkan jalan yang jauh pun terasa lebih ringan.
Life is limited. So choose someone who makes it feel meaningful. Dan mungkin pada akhirnya, hidup ini seperti sebuah titipan waktu yang perlahan akan kembali satu per satu.
“Some endings are not meant to scare us, but to remind us to live more sincerely before they arrive.”
Dan di titik ini, saya menuliskan semua ini dengan hati yang penuh. Saya menitihkan air mata… mengingat sosok Ebok. Sosok yang sederhana, tapi begitu dalam. Yang mungkin tidak sempurna di mata dunia, tapi begitu tenang dalam cara hidupnya.
Saya berharap suatu hari nanti, saya bisa punya hati sebaik itu. Aamiin.
Selamat menikmati penghujung bulan Ramadhan semua! semoga kita selalu diampuni, dilindungi, dan diberkahi.
Love,
Humannisa 💚
Seseorang yang sepanjang hidupnya “lurus-lurus saja”. Baik, tenang, tidak pernah berniat menyakiti orang lain. Tapi qodarullah, Allah beri ujian di akhir hidupnya. Dan di situ saya diam. Berpikir lama. Kalau seseorang sebaik itu saja tetap diuji, lalu apa sebenarnya yang sedang kita kejar dalam hidup?
It made me realize, hidup ini sangat terbatas. Not just time. But energy. But chances. But moments. Ada limit di setiap fase. Ada hal-hal yang tidak bisa kita ulang. Ada waktu yang tidak bisa kita tarik kembali.
Dan yang paling terasa, kedamaian itu bukan sesuatu yang tiba-tiba datang di akhir. Tapi sesuatu yang dibangun dari cara kita hidup sejak awal. Saya sering berpikir, what if my mother lived differently? Bagaimana kalau beliau bukan orang yang baik? Bagaimana kalau hidupnya penuh menyakiti orang lain? Mungkin di akhir hidupnya tidak akan setenang itu. Mungkin tidak akan ada rasa cukup. Mungkin tidak akan ada penerimaan.
And that thought humbles me. Bahwa hidup bukan tentang terlihat sempurna. Tapi tentang bagaimana kita menjalani setiap fase dengan benar, dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kesadaran bahwa semuanya ada batasnya.
Dan dari situ, saya mulai melihat hal lain dengan lebih jernih, termasuk soal pasangan hidup. Hidup ini sudah cukup berat. Dengan ujian, kehilangan, ketidakpastian. Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya jika dijalani bersama seseorang yang tidak punya komitmen dan integritas.
Because in the end, a partner is not just someone you love, but someone who helps you survive life with more ease. Seseorang yang mau berusaha membahagiakan, bukan hanya hadir saat mudah. Yang belajar bersyukur bersama, bukan terus merasa kurang. Yang mau memaafkan, bukan menyimpan kesalahan.
Because love is not just about feeling. It’s about choosing each other again and again, especially when it’s hard. Tidak perlu yang sempurna tapi yang mau berusaha. Yang sadar bahwa hidup ini terbatas, jadi tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan ego, gengsi, atau ketidakpastian.
Karena kalau hidup ini seperti perjalanan yang panjang dan melelahkan, maka pasangan adalah teman duduk di sebelah kita. Kalau dia tidak tenang, perjalanan akan terasa lebih berat. Kalau dia tidak peduli, perjalanan akan terasa sepi. Tapi kalau dia tepat, bahkan jalan yang jauh pun terasa lebih ringan.
Life is limited. So choose someone who makes it feel meaningful. Dan mungkin pada akhirnya, hidup ini seperti sebuah titipan waktu yang perlahan akan kembali satu per satu.
“Some endings are not meant to scare us, but to remind us to live more sincerely before they arrive.”
Dan di titik ini, saya menuliskan semua ini dengan hati yang penuh. Saya menitihkan air mata… mengingat sosok Ebok. Sosok yang sederhana, tapi begitu dalam. Yang mungkin tidak sempurna di mata dunia, tapi begitu tenang dalam cara hidupnya.
Saya berharap suatu hari nanti, saya bisa punya hati sebaik itu. Aamiin.
Selamat menikmati penghujung bulan Ramadhan semua! semoga kita selalu diampuni, dilindungi, dan diberkahi.
Love,
Humannisa 💚
